Sambangdesa.com / Bondowoso - Bagaimana seekor kambing bisa mengubah nasib sebuah keluarga? Di sebuah desa di Kecamatan Grujugan, pertanyaan sederhana ini dijawab dengan langkah strategis yang mengubah wajah perekonomian lokal dari sekadar bertahan hidup menjadi berdaya.
Pemerintah Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, kini tengah menempuh jalan baru dalam memberdayakan warganya. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), desa ini tidak lagi sekadar menyalurkan bantuan tunai yang habis pakai, melainkan menanamkan aset produktif berupa program peternakan kambing yang berkelanjutan.
Investasi Dana Desa yang Hidup
Pada Tahun Anggaran 2025, wajah Desa Kejawan mulai berubah dengan berdirinya 23 unit kandang kambing. Infrastruktur ini dibangun menggunakan Dana Desa (DD) melalui skema penyertaan modal kepada BUMDes. Langkah ini menandai pergeseran paradigma: dari pembangunan fisik semata menuju pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi.
Kepala Desa Kejawan, Sugianto, S.E., menegaskan bahwa program ini dirancang dengan visi jangka panjang. Ternak yang diserahkan kepada warga terdiri dari paket kambing jantan dan betina. Tujuannya jelas: pembiakan.
"Program ini kami rancang sebagai usaha produktif, bukan sekadar bantuan. Melalui pengelolaan BUMDes, warga diberi kesempatan mengembangkan ternak agar hasilnya bisa benar-benar dirasakan dalam peningkatan pendapatan keluarga," ujar Sugianto di sela-sela peninjauan kandang, Jumat (02/01/2026).
Dengan sistem ini, kambing bukan hanya menjadi hewan peliharaan, melainkan aset investasi yang nilainya terus bertambah seiring waktu.
Suara Optimisme dari Warga
Dampak dari kebijakan ini mulai menyentuh lapisan masyarakat paling bawah. Maisaroh, atau yang akrab disapa Bu Mamat, adalah salah satu penerima manfaat yang merasakan langsung perubahan tersebut. Baginya, bantuan ini adalah kail yang selama ini ia tunggu untuk memancing rezeki yang lebih besar.
“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Sebelumnya beternak masih terbatas, sekarang dengan adanya kandang dan kambing ini kami punya modal awal untuk mengembangkan pembiakan,” ungkap Bu Mamat dengan mata berbinar.
Ia menambahkan sebuah harapan sederhana namun mendalam, “Semoga ke depan hasilnya bisa menambah penghasilan dan membantu ekonomi keluarga.”
Sinergi Menuju Kemandirian
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi solid antar-elemen desa. Kehadiran Kepala Desa Sugianto, Ketua BUMDes Junaidi, dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Agus Abdul Wahid dalam peluncuran program menunjukkan komitmen institusional yang kuat.
Selain menargetkan peningkatan kesejahteraan warga, program ini juga diproyeksikan untuk mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes). BUMDes Kejawan berkomitmen untuk melakukan pendampingan intensif dan evaluasi berkala, memastikan bahwa setiap kandang yang dibangun tetap produktif dan setiap kambing yang dipelihara berkembang biak dengan sehat.
Apa yang terjadi di Desa Kejawan adalah contoh nyata bagaimana ekonomi kerakyatan bekerja. Dengan memberikan "kail" berupa modal ternak, pemerintah desa tidak hanya memberi makan warganya untuk sehari, tetapi memberi harapan untuk masa depan.
Inisiatif ini mengajak kita merenung: sudahkah potensi di desa kita dikelola untuk menciptakan kemandirian yang nyata, atau masih terjebak pada bantuan yang bersifat sementara?
Social Footer