![]() | |
| Soheili di Pulau Qeshm, Iran, menginspirasi dunia dengan pariwisata lahan basah berkelanjutan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi lokal yang harmonis dengan alam. |
Soheili terletak di Provinsi Hormozgan dan merupakan bagian dari Geopark Global UNESCO Qeshm. Desa ini juga menaungi Lahan Basah Khorkhoran dan Cagar Biosfer Hutan Mangrove, dua kawasan yang diakui sebagai situs Ramsar karena nilai konservasinya yang tinggi. Menyadari pentingnya menjaga ekosistem yang rapuh, masyarakat Soheili sejak 2018 beralih menggunakan pelampung rendah kebisingan untuk pariwisata dan memulai gerakan menanam bibit mangrove di rumah masing-masing. Langkah-langkah ini diambil untuk melindungi akar mangrove dari kerusakan sekaligus mengurangi dampak pariwisata terhadap lingkungan.
Setiap tahun, terutama pada bulan September, perempuan dan anak-anak mengumpulkan bibit mangrove, menanamnya dalam wadah daur ulang, dan kemudian memindahkannya ke lahan basah pada bulan Desember. Inisiatif ini bukan hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat setempat melalui pariwisata berbasis alam.
Soheili membuktikan bahwa warisan budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan. Dengan mengembangkan sektor pariwisata lahan basah yang ramah lingkungan, penduduk desa menciptakan peluang kerja baru, mulai dari pemandu wisata, operator perahu, hingga pengrajin lokal. Saat ini, terdapat lebih dari 30 perahu dan pelampung yang beroperasi secara ramah lingkungan, mengantarkan wisatawan menyusuri hutan bakau dan kawasan konservasi.
Selain itu, pasar kerajinan tangan dengan 20 toko menjadi etalase kreativitas komunitas, sementara dua akomodasi terapung dan lokasi pengamatan burung menarik minat pecinta alam dari berbagai penjuru. Semua inisiatif ini memperkuat ekonomi inklusif dan memberdayakan masyarakat, sekaligus memastikan pelestarian tradisi lokal.
Lokasi Soheili yang strategis di tepi laut turut membentuk identitas kuliner desa ini. Perikanan tetap menjadi tulang punggung ekonomi, namun masyarakat kini menambahkan nilai baru melalui pengembangan wisata kuliner. Sebelas restoran lokal menyajikan beragam hidangan laut segar, dengan kapasitas total 2.500 pengunjung dan melibatkan 150 warga sebagai tenaga kerja. Roti Tomoshi, hidangan tradisional yang terdaftar secara nasional, menjadi salah satu daya tarik utama.
Festival makanan dan tur kuliner berpemandu memperkenalkan pengunjung pada cita rasa autentik Iran selatan, sekaligus mempertahankan resep-resep warisan yang hampir punah. Melalui inovasi kuliner, Soheili tidak hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Transformasi Soheili menjadi destinasi pariwisata berbasis lahan basah tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat desa dan sekitarnya. Kolaborasi antara pelestarian lingkungan, pelestarian budaya, dan inovasi ekonomi menjadikan Soheili sebagai model desa yang mampu berkembang tanpa mengorbankan ekosistem.
Pariwisata yang dirancang dengan memperhatikan kelestarian alam memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata, sekaligus menjaga agar lingkungan tetap menjadi inti dari setiap pengalaman wisata. Soheili membuktikan bahwa desa-desa pedesaan di seluruh dunia dapat tumbuh secara berkelanjutan melalui pendekatan yang menghargai manusia, budaya, dan alam secara seimbang.
Soheili bukan sekadar destinasi wisata, melainkan contoh nyata bagaimana komunitas lokal dapat memimpin upaya menjaga ekosistem global melalui inovasi, tradisi, dan kolaborasi. Dengan mengintegrasikan mitos, konservasi, dan ekonomi kreatif, desa ini mengajak dunia untuk merenungkan pentingnya keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan. Bagi para pembaca, kisah Soheili dapat menjadi inspirasi untuk mendukung pariwisata berkelanjutan, menjaga warisan budaya, dan berkontribusi pada pelestarian lingkungan di mana pun berada.

Social Footer