Breaking News

Tradisi Bantai Kerbau di Batang Asai, Cara Masyarakat Sambut Ramadan dengan Kebersamaan

Tradisi Bantai Kerbau Sambut Ramadan
Tradisi bantai kerbau di Batang Asai, Jambi, melambangkan kebersamaan dan spiritualitas masyarakat dalam menyambut Ramadan. / Foto: Ist.
Sambangdesa.com / Sarolangun, Jambi — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat Batang Asai di Kabupaten Sarolangun kembali menghidupkan tradisi turun-temurun bantai kerbau. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang sarat dengan nilai sosial, spiritual, dan kebersamaan.

Bantai kerbau bukan sekadar prosesi penyembelihan hewan, tetapi juga menjadi simbol gotong royong, penghormatan terhadap adat, serta ungkapan syukur masyarakat Batang Asai dalam menyambut bulan penuh berkah.

“Bantai kerbau ini adalah wujud gotong royong, penghormatan, dan penghargaan terhadap adat. Kita menyambut hari baik dan bulan baik, yaitu bulan suci Ramadan, dengan hati yang bersih dan penuh kebersamaan,” ujar tokoh masyarakat Batang Asai, Dr. H. Zarkoni, Senin (13/2).

Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai dusun di Batang Asai berkumpul di lokasi kegiatan. Kaum lelaki bergotong royong dalam proses penyembelihan kerbau dan pengolahan daging, sementara kaum perempuan sibuk mempersiapkan pembagian dan pengolahan makanan.

Semua dilakukan secara sukarela, tanpa memandang status sosial, mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat.

“Tradisi ini mengajarkan kita untuk berbagi, bersyukur, dan memperkuat persaudaraan sebelum memasuki bulan puasa,” tambah Zarkoni.

Daging kerbau yang disembelih kemudian dibagikan secara merata kepada warga untuk kebutuhan menyambut Ramadan. Suasana kekeluargaan dan kehangatan terasa kuat, mencerminkan nilai gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Batang Asai.

Dr. H. Zarkoni menegaskan bahwa tradisi bantai kerbau juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja yang terlibat atau menyaksikan langsung proses ini diajarkan nilai kebersamaan, kerja sama, dan kepedulian sosial.

“Kalau adat ini kita jaga, generasi muda akan tumbuh dengan identitas yang kuat. Mereka tahu dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang harus mereka pegang ke depan,” ujarnya.

Sebagai tokoh adat dan masyarakat, Zarkoni juga dikenal aktif mendorong pelestarian budaya lokal serta membangun komunikasi lintas generasi. Menurutnya, pelestarian adat dan budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah.

Tradisi bantai kerbau, menurut Zarkoni, tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Justru tradisi ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kebersamaan, sedekah, dan persiapan spiritual menjelang Ramadan.

Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Tradisi ini mengajarkan kita untuk berbagi, bersyukur, dan memperkuat persaudaraan,” jelasnya.

Masyarakat Batang Asai berharap tradisi bantai kerbau ini terus dilestarikan dan mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga adat. Tradisi ini dinilai sebagai aset budaya yang memperkuat identitas Sarolangun dan Jambi secara umum.

Di tengah arus modernisasi, tradisi bantai kerbau menjadi bukti bahwa nilai gotong royong, penghormatan terhadap adat, dan kebersamaan masih terjaga dengan baik. Tradisi ini tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupi sebagai bentuk kesiapan masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh makna dan keberkahan.

Tradisi bantai kerbau di Batang Asai adalah refleksi dari kekayaan budaya Indonesia yang tetap relevan di tengah modernisasi. Dari nilai gotong royong hingga pendidikan karakter bagi generasi muda, tradisi ini menjadi cerminan kebersamaan dan spiritualitas masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close