![]() |
Dikutip dari karya Ester Haumahu, "Boiratan dan Boikiki" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, legenda ini mengambil latar pada masa lalu di Kepulauan Banda, Maluku. Raja Lawataka dan permaisurinya, Mulika Nyaira Banda Toka, memimpin kerajaan ini bersama enam putra dan satu putri, Boiratan. Selain membesarkan anak-anak mereka, pasangan kerajaan ini juga mengasuh anak dari Raja Sahulau yang kemudian kembali ke Seram setelah kematian ayahnya.
Masalah muncul ketika Boiratan, sang putri, tiba-tiba diketahui hamil. Tanpa kejelasan siapa ayah sang bayi, keenam saudara laki-lakinya saling menuding dan memutuskan untuk mencari kebenaran melalui sebuah ritual. Mereka menunggu hingga Boiratan melahirkan dan mengamati ke mana bayi, yang kemudian dinamai Boikiki, akan mendekat saat diletakkan di tengah lingkaran mereka. Namun, Boikiki hanya berputar-putar tanpa memilih satu pun dari mereka.
Situasi ini membuat Boiratan merasa tidak lagi diterima. Pada suatu malam, dengan tekad yang kuat, ia memutuskan berlayar meninggalkan kampung bersama putranya demi mencari ayah Boikiki.
Perjalanan Boiratan dan Boikiki membawa mereka ke Negeri Sahulau. Dengan harapan, Boiratan meminta Raja Sahulau, yang diyakini sebagai ayah Boikiki, untuk menikahinya. Namun, permintaan itu ditolak karena perbedaan status kekuasaan antara negeri mereka. Meskipun kecewa, Boiratan memilih melanjutkan pelayaran ke Negeri Latuhalat, menyusuri pantai dari Tanjung Nusaniwe, Labuhan Seilale, hingga Eri.
Akhirnya, mereka tiba di Batu Pasang-Pasang, sebuah lokasi di antara Gunung Nona dan Gunung Tola. Di sana, Boiratan menancapkan sebatang bambu yang dikenal sebagai bambu suanggi, simbol kehadiran mereka yang masih tumbuh hingga kini. Tempat ini kemudian disebut Armahusi, cikal bakal Negeri Amahusu.
Di Armahusi, Boikiki tumbuh menjadi pria tangguh. Namun, ancaman dari para musuh membuat Boiratan harus mengambil tindakan. Ia meminta bantuan dari Kampung Arusi di Tanjung Nusaniwe. Kapitan Sounusa dan Kapitan Samajotu datang membantu, dan bersama Boiratan serta Boikiki, mereka berhasil mengamankan wilayah tersebut dari serangan.
Ketenteraman kembali menyelimuti Armahusi, menandai pentingnya persatuan dan keberanian dalam mempertahankan tanah kelahiran.
Setelah situasi stabil, Boikiki menikahi putri Kapitan Leinussa. Pasangan muda ini kemudian mencari wilayah baru di tepi pantai, menetap di antara Waiila dan Wailia. Di sana, Boikiki mendirikan negeri yang diberinya nama Amahusu—dari kata “Ama” berarti ayah dan “Husu” yang berarti belajar menyusur.
Boikiki diangkat menjadi raja pertama Amahusu dan menyandang gelar "Latuwakang", menandakan dirinya sebagai raja yang datang dengan padewakang atau perahu. Inilah awal mula keberadaan Negeri Amahusu yang kini menjadi salah satu wilayah bersejarah di Maluku.
Legenda Boiratan dan Boikiki bukan sekadar cerita rakyat. Kisah ini memperkaya pemahaman budaya, menekankan pentingnya identitas, keberanian, dan persatuan dalam menghadapi tantangan. Nilai-nilai yang tercermin dalam perjalanan Boiratan dan Boikiki tetap relevan hingga kini, menjadi inspirasi bagi masyarakat Maluku maupun Indonesia secara luas.
Cerita ini tidak hanya menjadi pengingat sejarah, namun juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna keluarga, keberanian, dan bagaimana sebuah komunitas bisa lahir dari perjuangan dan pengorbanan.

Social Footer