| Megengan, tradisi doa bersama dan berbagi apem, menjadi cara masyarakat Jawa menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. |
Ketua Umum Paguyuban Jawa Kabupaten Ketapang, Achmad Sholeh, menjelaskan bahwa tradisi doa bersama yang dikenal dengan nama Megengan memiliki filosofi mendalam dalam budaya Jawa.
“Megengan berasal dari kata ‘menahan,’ yang mengajarkan untuk menahan hawa nafsu, perilaku buruk, serta lapar dan dahaga sebagai latihan sebelum menjalani ibadah puasa Ramadan,” ujar Sholeh.
Megengan tidak hanya sebatas doa bersama, tetapi juga menjadi salah satu bentuk persiapan lahir dan batin menjelang Ramadan. Dalam tradisi ini, masyarakat juga berbagi kue apem sebagai simbol permohonan maaf dan rasa syukur. “Di Jawa, apem berbentuk bundar, sementara di Ketapang bentuknya menyerupai bantal. Tradisi ini menjadi awal dari budaya saling memaafkan sebelum Ramadan,” tambah Sholeh.
Menurutnya, tradisi Megengan penting untuk menjaga nilai-nilai spiritual dan memperkuat ikatan budaya, terutama bagi generasi muda. “Kita ingin Ramadan datang dalam suasana hati yang bersih dan penuh persaudaraan,” ungkapnya.
Acara Megengan di Ketapang juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Jawa dari berbagai daerah seperti Kudus, Jepara, Lamongan, Banyumas, Gunungkidul, Yogyakarta, dan Surakarta yang kini tinggal di Ketapang. Meski berasal dari latar belakang berbeda, mereka hidup rukun dalam keberagaman.
“Kegiatan ini adalah wujud kebersamaan dan persaudaraan masyarakat Jawa di Ketapang. Tradisi ini mengajarkan kita untuk tetap menjaga harmoni meski dalam keberagaman,” kata Sholeh.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma'ruf Kudus, KH. Ahmad Asnawi, yang hadir dalam acara tersebut, turut memberikan ceramah tentang pentingnya menghormati adat dan tradisi dalam Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.
“Ramadan adalah bulan yang istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW. Amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa bernilai besar di sisi Allah,” tuturnya.
KH. Asnawi juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan bulan Sya’ban untuk memperbanyak doa. Ia menyebutkan tiga doa utama yang dianjurkan, yakni memohon umur panjang untuk ibadah, rezeki halal yang cukup, dan husnul khatimah.
“Yang paling penting adalah amal yang benar, ikhlas, dan halal. Itulah yang membawa keberkahan hidup dan keselamatan di akhirat,” pesannya.
Tradisi Megengan bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi cara masyarakat Jawa menjaga nilai-nilai spiritual dan kebersamaan. Dari berbagi apem hingga doa bersama, tradisi ini mengajarkan pentingnya menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, saling memaafkan, dan persiapan batin yang matang.
Social Footer