| Ruwah Ngirim, tradisi Jawa menyambut Ramadan, mengajarkan makna mendalam melalui apem dan doa. / Gambar: Google.com |
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Ruwah Ngirim hadir tanpa gemuruh. Tidak ada perayaan besar, tetapi justru dalam kesederhanaannya, tradisi ini mengajak manusia kembali pada akar: keluarga, ingatan, dan doa.
Rangkaian Ruwah Ngirim biasanya dimulai dari dapur rumah, saat keluarga membuat kue apem. Sekilas, apem hanyalah makanan tradisional berbahan tepung beras, santan, dan gula. Namun, bagi masyarakat Jawa, apem memiliki filosofi spiritual yang mendalam.
Kata apem dipercaya berasal dari kata Arab afwan, yang berarti maaf atau ampunan. Membuat apem bukan sekadar aktivitas memasak, tetapi juga simbol permohonan maaf kepada sesama sebelum Ramadan tiba.
Proses pembuatannya pun penuh makna. Adonan yang harus didiamkan hingga mengembang menjadi pengingat bahwa hati manusia juga membutuhkan waktu untuk melembutkan ego. Kesabaran dalam menunggu apem matang mencerminkan perjalanan batin menuju keikhlasan.
Setelah apem siap, tradisi dilanjutkan dengan ngirim doa kepada keluarga yang telah wafat. Warga mendatangi makam nenek, kakek, orang tua, atau kerabat lainnya. Rumput di sekitar makam dibersihkan, bunga ditaburkan, dan doa dilantunkan dengan khusyuk.
Suasana pemakaman menghadirkan keheningan yang berbeda. Di tempat ini, manusia diingatkan bahwa kehidupan memiliki batas. Semua pencapaian duniawi pada akhirnya akan berhenti di tanah yang sama.
Ziarah kubur dalam Ruwah Ngirim bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk kasih sayang yang tidak terputus oleh kematian. Doa menjadi cara manusia menjaga hubungan dengan mereka yang telah lebih dahulu pergi.
Ruwah Ngirim dilakukan tanpa kemewahan. Tidak ada panggung besar atau perayaan meriah. Justru kesederhanaannya membuat tradisi ini terasa tulus.
Melalui apem dan doa, masyarakat diajak untuk melakukan persiapan batin: saling memaafkan, mengingat jasa orang tua, serta menyadari bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga membersihkan hati.
Tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial. Tetangga dan keluarga berkumpul, hubungan yang mungkin renggang kembali hangat menjelang bulan suci.
Di era modern, sebagian orang mulai meninggalkan tradisi seperti Ruwah Ngirim karena dianggap kuno atau tidak praktis. Namun, tradisi ini justru menyimpan nilai yang semakin relevan: memperlambat langkah di tengah kehidupan yang serba terburu-buru.
Ketika dunia semakin individualistis, Ruwah Ngirim mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada leluhur yang pernah berjuang sebelum kita, ada keluarga yang perlu dijaga, dan ada doa yang menjadi penghubung lintas generasi.
Ruwah Ngirim mungkin berlangsung sunyi, tetapi maknanya sangat dalam. Dari manisnya apem hingga doa di pemakaman, semuanya menjadi cara sederhana untuk berkata: "Kami siap menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih."
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang datangnya bulan suci, tetapi juga tentang bagaimana manusia pulang—kepada Tuhan, kepada keluarga, dan kepada dirinya sendiri.
Social Footer