![]() |
| Punggahan, tradisi menyambut Ramadan, menjadi momen doa bersama dan silaturahmi yang mempererat kebersamaan umat Muslim. |
Punggahan, atau dikenal juga sebagai Munggahan di beberapa daerah, merupakan tradisi yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari hingga satu minggu sebelum Ramadan dimulai. Istilah punggahan berasal dari bahasa Jawa, munggah, yang berarti "naik" atau "menaikkan". Secara simbolis, tradisi ini bermakna meningkatkan kualitas iman dan kebersihan hati sebelum memasuki bulan puasa.
Tradisi Punggahan memiliki beberapa tujuan penting yang menjadikannya relevan hingga saat ini:
1. Meningkatkan Kesiapan Spiritual
Punggahan mengingatkan umat Islam bahwa Ramadan sudah dekat. Tradisi ini mendorong umat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, meningkatkan ibadah, dan memperkuat keimanan. Ramadan, sebagai bulan penuh pahala, menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amal saleh.
2. Rasa Syukur kepada Allah SWT
Dipertemukannya seseorang dengan bulan Ramadan dianggap sebagai nikmat besar dari Allah SWT. Punggahan menjadi sarana bagi umat Muslim untuk mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan ini, sekaligus memohon kekuatan dalam menjalani ibadah sepanjang bulan suci.
3. Mempererat Silaturahmi
Punggahan juga memiliki dimensi sosial yang khas. Tradisi ini menjadi momen bagi keluarga, kerabat, dan tetangga untuk berkumpul, makan bersama, dan bercengkerama. Nilai silaturahmi yang terjalin di tengah kegiatan ini menjadi sangat penting, terutama di era modern yang cenderung individualistis.
4. Saling Memaafkan dan Doa Bersama
Punggahan sering disertai dengan doa bersama, tahlil, dan saling memohon maaf. Praktik ini menghadirkan suasana kebersamaan dan pengampunan sebelum memasuki Ramadan. Selain itu, ziarah kubur untuk mendoakan leluhur juga menjadi bagian penting dari tradisi ini, sebagai bentuk penghormatan dan penyucian hati.
Tradisi Punggahan dilaksanakan dengan cara yang beragam di berbagai daerah, namun esensi dan nilai yang terkandung tetap sama: persiapan hati dan sosialisasi umat Muslim menjelang Ramadan.
a. Jawa: Tradisi Punggahan biasanya dilakukan dengan makan bersama, ceramah, doa, dan pengajian yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
b. Sumatera Utara: Masyarakat sering berkumpul di masjid atau balai desa, membawa makanan dari rumah untuk didoakan bersama sebelum menikmati hidangan bersama.
c. Komunitas lainnya: Di beberapa tempat, Punggahan dijadikan sarana untuk mempererat hubungan antarwarga melalui pertemuan komunitas, doa bersama, dan kegiatan sosial.
Meski nama dan detail pelaksanaannya dapat berbeda-beda, nilai utama Punggahan tetap sama di seluruh Nusantara: mempersiapkan hati, mempererat silaturahmi, dan menyambut Ramadan dengan penuh kehangatan.
Dilansir dari laman nu.or.id, tradisi Punggahan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Fokus tradisi ini adalah pada doa, silaturahmi, dan persiapan spiritual, yang sejalan dengan ajaran Islam.
Banyak ulama menyebut bahwa berkumpul menjelang Ramadan untuk meningkatkan takwa dan saling memaafkan adalah tindakan yang dianjurkan, selama tidak melibatkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama.
Punggahan adalah salah satu tradisi Indonesia yang penuh makna, menggabungkan nilai spiritual dan sosial untuk menyambut Ramadan. Dari doa bersama hingga makan bersama, tradisi ini menjadi pengingat pentingnya persiapan lahir dan batin sebelum bulan suci. Di tengah modernisasi, Punggahan tetap relevan sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur yang memperkuat hubungan antarumat Muslim. Tradisi ini mengajarkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah individu, tetapi juga tentang mempererat hubungan dengan sesama dan menyucikan hati.

Social Footer