![]() |
| Pegghengan, tradisi khas Madura, menjadi simbol persiapan lahir dan batin menjelang Ramadan. |
Pegghengan berasal dari kata meggeng, yang berarti "menahan". Secara simbolik, tradisi ini mengajarkan pentingnya menahan hawa nafsu sebagai persiapan lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan. Ritual pegghengan menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk mempersiapkan diri menjalani ibadah puasa dengan hati yang bersih dan semangat yang baru.
Tradisi pegghengan pada masyarakat Madura memiliki kemiripan dengan tradisi Megengan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh budaya Jawa terhadap kebudayaan Madura yang terjadi melalui proses akulturasi selama berabad-abad.
Namun, masyarakat Madura tetap memiliki akar budaya yang khas, yang terlihat dari sifat mereka yang egaliter dan terbuka. Tradisi pegghengan mencerminkan karakter masyarakat Madura yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong.
Pegghengan biasanya dilaksanakan satu hari sebelum Ramadan. Pelaksanaannya memiliki ciri khas di masing-masing daerah. Contohnya, masyarakat Madura di Sampang sering merangkai tradisi pegghengan dengan membuat katopa’ sangoh (ketupat bekal).
Di Kalimantan Barat, tradisi ini juga dilaksanakan oleh masyarakat Madura yang tinggal di Kelurahan Sungai Jawi, Pontianak. Setiap kepala keluarga membuat katopa’ sangoh dari janur kelapa muda yang diisi beras dan direbus hingga matang. Ketupat ini sering dijadikan bekal untuk sahur atau perjalanan jauh.
Salah satu elemen penting dalam pegghengan adalah aberebbe, yaitu pembacaan doa selamat yang dilakukan bersama tetangga. Biasanya, tuan rumah akan mengundang para tetangga untuk datang ke rumahnya dan membaca doa bersama.
Karena tradisi ini hanya berlangsung sehari, pembacaan doa dilakukan secara bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya. Untuk mengantisipasi jumlah undangan yang terlalu banyak, tuan rumah sering membuat kesepakatan dengan tetangga lain agar pembacaan doa dibagi menjadi beberapa kelompok.
Hidangan yang disajikan dalam tradisi pegghengan bervariasi tergantung kemampuan ekonomi tuan rumah. Beberapa hidangan khas yang kerap disajikan meliputi:
1. Soto
2. Sate
3. Rendang daging sapi
4. Ayam dengan kuah santan
5. Telur ayam dimasak kuah santan
Meskipun tamu undangan tidak selalu menghabiskan makanan yang disajikan, tuan rumah merasa senang karena tujuan utama dari tradisi ini adalah kebersamaan dan doa bersama.
Tradisi pegghengan tidak hanya menjadi momen persiapan spiritual, tetapi juga fisik. Masyarakat Madura menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan asupan makanan agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik.
Selain itu, tradisi ini menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul, terutama bagi anggota keluarga yang tinggal jauh. Anak-anak muda Madura yang merantau biasanya pulang ke rumah untuk menyambut hari pertama Ramadan dengan makan sahur bersama keluarga.
Tradisi pegghengan adalah cerminan kekayaan budaya Madura yang menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan. Dari doa bersama hingga makan sahur bersama keluarga, tradisi ini menjadi wujud tarhib Ramadan yang penuh makna.

Social Footer