| Cirebon memiliki tradisi unik menyambut Ramadan, seperti Dlugdag dan Ruwahan. Temukan makna dan prosesi tradisi ini dalam menyongsong bulan suci. |
Lebih dari sekadar ibadah, Ramadan juga menjadi momen istimewa karena setiap amal kebaikan yang dilakukan diganjar dengan pahala berlipat ganda. Oleh karena itu, tidak heran jika bulan suci ini selalu dirindukan oleh banyak orang.
Di Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman budaya, berbagai tradisi unik dilakukan untuk menyambut Ramadan. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari persiapan spiritual, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu daerah dengan tradisi khas menyambut Ramadan adalah Cirebon. Berikut dua tradisi utama yang masih dilestarikan hingga kini:
1. Dlugdag: Penabuhan Beduk Sambut Ramadan
Tradisi Dlugdag menjadi salah satu simbol khas masyarakat Cirebon dalam menyambut Ramadan. Tradisi ini ditandai dengan penabuhan beduk secara berulang-ulang sebagai simbol kedatangan bulan suci.
Acara Dlugdag biasanya berlangsung di halaman depan Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon, tepat setelah salat Ashar pada hari terakhir bulan Syaban. Penabuhan beduk pertama kali dilakukan oleh Sultan Sepuh XIV, kemudian diikuti oleh abdi dalem, wargi keraton, dan masyarakat sekitar.
Tradisi ini merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati sejak ratusan tahun lalu. Pada masa lampau, dentuman beduk menjadi penanda bagi masyarakat bahwa malam harinya mereka sudah harus menunaikan salat tarawih dan bersiap untuk sahur keesokan harinya.
Dlugdag menjadi simbol antusiasme masyarakat Cirebon dalam menyambut Ramadan. Selain sebagai penanda waktu, tradisi ini juga menjadi momen kebersamaan masyarakat di sekitar keraton.
2. Ruwahan: Persiapan Spiritual Menjelang Ramadan
Dua minggu sebelum Ramadan, Keraton Kasepuhan Cirebon rutin mengadakan tradisi Ruwahan. Tradisi ini diawali dengan salat Ashar berjamaah di Masjid Sang Cipta Rasa, salah satu masjid bersejarah di Cirebon.
Setelah salat, acara dilanjutkan dengan ceramah agama yang membahas keutamaan malam Nisfu Syaban. Puncak dari tradisi ini adalah ziarah ke Kompleks Makam Sunan Gunung Jati, yang menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan spiritual menyambut bulan puasa.
Tradisi Ruwahan tidak hanya menjadi momen refleksi spiritual, tetapi juga menunjukkan betapa antusiasnya masyarakat Cirebon dalam menyambut bulan suci. Ziarah makam menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan pengingat akan pentingnya menjaga hubungan spiritual dengan Tuhan.
Tradisi Dlugdag dan Ruwahan di Cirebon adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang terus hidup hingga kini. Dari penabuhan beduk hingga ziarah makam, tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan persiapan spiritual menyambut Ramadan.
Social Footer