![]() |
| Tradisi arebbe di Madura menjadi simbol berbagi dan kebersamaan menjelang Ramadan. |
Tradisi arebbe dilakukan dengan semangat bersedekah, terutama di bulan Syaban, yang dikenal sebagai bulan persiapan menuju Ramadan. Makanan yang dibagikan dalam tradisi ini tidak harus mewah—hasil pertanian, buah-buahan, atau masakan sederhana pun menjadi simbol berbagi yang cukup bermakna.
Tradisi arebbe memiliki nilai yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Madura. Selain menjadi momen untuk saling berbagi, tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial. Setelah menerima makanan, pengantar dan penerima biasanya saling meminta maaf, menciptakan suasana damai dan rukun menjelang bulan suci.
Menurut Jurnal Al-Bayan edisi 2018, tradisi arebbe mengajarkan tentang pentingnya berbuat kebaikan sebanyak mungkin di bulan Ramadan. Tradisi ini juga memperkuat hubungan dengan tetangga, menyemarakkan masjid, serta menanamkan nilai-nilai persaudaraan dan gotong royong di tengah masyarakat.
Arebbe biasanya dilaksanakan dalam beberapa momen penting selama Ramadan: 1. Awal Ramadan: Tradisi ini dilakukan pada malam pertama puasa sebagai bentuk rasa syukur menyambut bulan penuh berkah dan memohon pengampunan kepada Sang Pencipta.
2. Pertengahan Ramadan: Tradisi arebbe kembali dilakukan mulai tanggal 17 Ramadan hingga menjelang Idul Fitri. Pada momen ini, kegiatan berbagi makanan dimaknai sebagai upaya untuk mendapatkan berkah dan pengampunan, terutama di malam Lailatul Qadar.
3. Setelah Ramadan: Arebbe juga dilakukan pada hari raya Idul Fitri sebagai wujud rasa syukur atas pelaksanaan ibadah puasa selama satu bulan penuh.
Tradisi ini dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, baik di lingkungan rumah, masjid, maupun musala. Makanan yang dibagikan dapat dinikmati bersama oleh jamaah masjid, menciptakan kesan kebersamaan yang kuat.
Makanan yang dibagikan dalam tradisi arebbe bervariasi tergantung kemampuan setiap keluarga. Hidangan sederhana seperti hasil pertanian, buah-buahan, atau masakan khas Madura menjadi bagian penting dari ritual ini. Bagi masyarakat Madura, keutamaan tradisi ini tidak terletak pada jenis makanan yang dibagikan, melainkan pada niat tulus untuk berbagi dan mempererat hubungan sosial.
Tradisi arebbe adalah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Madura yang kaya akan nilai spiritual dan sosial. Dari berbagi makanan hingga saling memaafkan, tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan persiapan lahir dan batin dalam menyambut Ramadan.
Di tengah modernisasi, tradisi seperti arebbe tetap relevan sebagai pengingat akan pentingnya bersedekah, mempererat silaturahmi, dan menjaga harmoni di tengah masyarakat. Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat Madura tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai Islam yang universal.

Social Footer