| Apeman, tradisi membuat dan membagikan kue apem, menjadi simbol permohonan maaf dan kebersamaan masyarakat Jawa menjelang Ramadan. |
Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat membuat kue apem dalam jumlah besar untuk kemudian dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar. Selain sebagai ajang berbagi, tradisi ini juga menjadi simbol permohonan maaf serta penyucian diri sebelum memasuki bulan penuh ibadah.
Tradisi Apeman adalah kegiatan membuat dan membagikan kue apem yang dilakukan menjelang Ramadan. Kue apem, yang berbentuk bulat, terbuat dari bahan sederhana seperti tepung beras, santan, dan gula.
Menurut studi berjudul Apeman, Babad Dalan, and Rasulan Ceremonies: The Ways to Respect Ki Ageng Giring in Sodo Village, Gunungkidul, Yogyakarta oleh Dahlia Kusumaningrum dan Agus Darwanto, nama apem berasal dari bahasa Arab ‘Affan, yang berarti ampunan. Dalam perjalanan waktu, kata ini mengalami penyesuaian dalam pengucapan bahasa Jawa menjadi apem.
Kue apem dibuat sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan, sedangkan pembagiannya kepada tetangga melambangkan permohonan maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan. Di beberapa daerah, tradisi Apeman juga diramaikan dengan Grebeg Apeman, yaitu arak-arakan gunungan kue apem yang menjulang tinggi. Tradisi ini dilakukan secara turun-temurun dan terus dilestarikan hingga saat ini.
Tradisi Apeman biasanya diawali dengan kegiatan memasak kue apem. Proses pembuatan apem membutuhkan ketelatenan karena adonan perlu difermentasi terlebih dahulu untuk menghasilkan tekstur yang lembut.
Di beberapa wilayah di Yogyakarta, tradisi ini digelar bersama oleh warga desa dan diiringi doa bersama. Selain memohon ampunan kepada Tuhan, tradisi ini juga menjadi wujud rasa syukur dan harapan agar diberikan kesehatan serta kelancaran dalam menyambut Ramadan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Qonik Syifa'ul Mar'ah, tradisi Apeman umumnya dilaksanakan pada tanggal 27 Syaban. Namun, beberapa daerah memiliki jadwal pelaksanaan yang berbeda, selama masih berada dalam bulan Ruwah (Syaban).
Nama kue apem yang berarti ampunan telah menjadikan tradisi Apeman sebagai simbol permohonan maaf kepada sesama sebelum memasuki bulan Ramadan. Bulan yang dianggap mulia ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ibadah.
Melalui kegiatan berbagi apem, masyarakat berupaya menjalin silaturahmi sekaligus menyampaikan pesan maaf secara simbolis atas kesalahan yang pernah dilakukan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa menjaga hubungan harmonis dengan tetangga adalah bagian penting dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan.
Selain itu, tradisi Apeman juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong, di mana masyarakat bergabung untuk mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan ini dengan penuh antusiasme.
Tradisi Apeman bukan sekadar kegiatan berbagi kue apem, tetapi juga wujud nyata dari nilai-nilai spiritual dan sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Dari makna permohonan ampun hingga upaya menjaga silaturahmi, tradisi ini menjadi bagian penting dari persiapan menyambut Ramadan.
Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, tradisi Apeman mengajarkan bahwa kebersamaan dan keharmonisan adalah kunci menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan bermakna. Apakah tradisi ini akan terus lestari di tengah modernisasi? Dengan semangat pelestarian budaya, Apeman tentu akan tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Jawa.
Social Footer