Breaking News

Siasat Cerdas BUMDes Beran Kelola Modal

Sambangdesa.com / Ngawi - Keterbatasan anggaran sering kali menjadi tembok penghalang bagi inovasi di tingkat desa. Namun, di Kabupaten Ngawi, sebuah inisiatif lokal membuktikan bahwa modal minim justru dapat memicu kreativitas bisnis yang realistis dan menguntungkan.

Pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nyawiji dan Pemerintah Desa Beran, Kecamatan Ngawi, memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Dengan penyertaan modal yang relatif terbatas—kurang dari Rp200 juta—mereka merancang strategi bisnis yang jeli: memilih sektor usaha dengan perputaran uang cepat dan risiko terukur.

Setelah melalui proses musyawarah yang panjang, pilihan jatuh pada sektor agribisnis: pembesaran bebek dan penggemukan sapi (sapi kereman).

Realisme Bisnis di Tengah Keterbatasan
Kepala Desa Beran, Agus Supriyadi, menjelaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada analisis pasar dan kondisi geografis desa. Dengan modal cair sekitar Rp170 juta, BUMDes harus pintar memutar otak agar dana tersebut tidak mengendap, melainkan berkembang.

“Kami baru bisa melakukan penyertaan modal ke BUMDes sekitar Rp170 jutaan. Makanya kami realistis saja, mencari usaha yang kira-kira bisa dilakukan warga desa dan kemungkinan putar modalnya cepat,” ujar Agus, Jumat (02/01/2026).

Strategi ini menempatkan BUMDes bukan sebagai pemilik modal pasif, melainkan penggerak ekonomi yang memanfaatkan keahlian warga lokal yang sudah berpengalaman.

Potensi Cuan dari Tepi Saluran Ngebok
Unit usaha andalan yang kini tengah digenjot adalah pembesaran bebek pedaging. Sebanyak 2.500 ekor bebek, yang dimulai dari bibit usia satu bulan, kini memenuhi kandang sederhana di Dusun Ingasrejo. Lokasi ini dipilih secara strategis karena berdekatan dengan Saluran Ngebok, memudahkan akses air dan sanitasi.

Agus memaparkan hitungan ekonomis yang menjanjikan dari usaha ini. "Harga kulakan (beli) bebek per ekor sekitar Rp30 ribuan. Harapannya, setelah dua bulanan dipelihara, bisa laku Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per ekor," jelasnya.

Selain margin keuntungan yang menarik, alasan pemilihan bebek juga didasari oleh supply and demand. Pasokan daging bebek di wilayah tersebut masih minim, sementara permintaannya terus stabil. Kandang yang sederhana dan biaya pakan yang lebih terjangkau dibandingkan ternak besar lainnya menjadikan sektor ini primadona bagi BUMDes dengan anggaran ketat.

Diversifikasi Aset Melalui Ternak Sapi
Tidak meletakkan semua telur dalam satu keranjang, BUMDes Nyawiji juga mengalokasikan sisa dana penyertaan modal untuk investasi jangka menengah berupa ternak sapi.

Saat ini, BUMDes telah memiliki empat ekor sapi sebagai aset usaha. Komposisinya terdiri dari satu ekor jenis sapi Belgia (Belgian Blue) dan tiga ekor bibit sapi Limousin. Pemilihan jenis sapi unggul ini ditujukan untuk memaksimalkan nilai jual kembali saat masa panen tiba.

“Memelihara sapi kereman dipilih karena peluang pasarnya bagus,” tambah Agus. Ia berharap kombinasi antara perputaran cepat dari ternak bebek dan investasi bernilai tinggi dari sapi dapat menjaga arus kas BUMDes tetap sehat.

Langkah BUMDes Nyawiji di Desa Beran memberikan pelajaran berharga tentang manajemen sumber daya. Bahwa keberhasilan usaha desa tidak melulu soal seberapa besar modal yang dikucurkan, tetapi seberapa jeli pengelola melihat peluang pasar dan potensi lokal.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close