Breaking News

Aceh Tengah Relokasi Sembilan Desa Terdampak Banjir

Sambangdesa.com / Takengon – Jejak kehancuran pascabencana di dataran tinggi Gayo memaksa pemerintah daerah mengambil keputusan sulit namun krusial demi keselamatan ribuan nyawa. Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah secara resmi mengumumkan rencana relokasi bagi warga di sembilan desa yang terdampak parah oleh banjir bandang dan tanah longsor baru-baru ini.

Langkah drastis ini diambil setelah evaluasi menyeluruh menunjukkan bahwa kondisi geografis di permukiman lama tidak lagi layak huni. Trauma akan bencana dan ancaman alam yang nyata membuat opsi bertahan bukan lagi pilihan yang bijak.

Alam yang Tak Lagi Bersahabat
Perubahan struktur alam pascabencana menjadi alasan utama di balik keputusan pemindahan ini. Lanskap wilayah yang dulunya merupakan permukiman warga kini telah berubah drastis. Di beberapa titik, tanah tempat rumah berdiri telah tergerus dan berubah menjadi jalur aliran sungai baru.

Selain itu, ancaman susulan masih mengintai. Ditemukan patahan tanah berukuran besar, tumpukan material batu raksasa yang menimbun sisa bangunan, serta sebaran kayu gelondongan yang terbawa arus. Kondisi ini dinilai sangat membahayakan keselamatan penduduk jika mereka dipaksa untuk kembali.

Daftar Wilayah yang Harus Pindah
Relokasi ini difokuskan pada dua kecamatan yang mengalami kerusakan infrastruktur dan lingkungan paling signifikan. Berikut adalah daftar desa yang warganya akan dipindahkan ke lokasi baru:

Kecamatan Linge: Desa Kute Reje, Jamat, Reje Payung, Delung Sekinel, Umang, dan Panaron.

Kecamatan Ketol: Desa Bur Lah, Serempah, dan Bintang Pepara.

Lahan Baru, Harapan Baru
Merespons situasi darurat ini, pemerintah daerah bergerak cepat untuk menyediakan lahan relokasi yang aman. Untuk warga Desa Umang dan Desa Panaron di Kecamatan Linge, solusi telah ditemukan melalui kerja sama dengan sektor swasta.

Warga akan menempati lahan milik PT Tusam Hutani Lestari (THL). Kesepakatan ini tercapai setelah koordinasi intensif dengan Direktur THL, Edi Prabowo.

"Lahan untuk dua desa, Umang dan Panaron, sudah tersedia. Pihak pengelola lahan (THL) berkoordinasi dengan Bapak Edi Prabowo telah menyatakan kesiapan memberikan lahan berapapun luasnya sesuai kebutuhan masyarakat," ungkap Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, dalam keterangannya pada Kamis (1/1/2025).

Gotong Royong Pembiayaan
Sementara itu, proses pembebasan lahan untuk empat desa di kawasan Jamat juga menunjukkan progres positif. Pemerintah memastikan bahwa sebagian besar lahan relokasi telah lunas dibayarkan.

Menariknya, upaya pemulihan ini tidak hanya mengandalkan anggaran daerah, tetapi juga melibatkan solidaritas dari berbagai pihak. Bupati Haili Yoga menyebutkan adanya kontribusi dana pribadi dari sejumlah menteri dan donatur yang peduli terhadap nasib korban bencana di Aceh Tengah.

"Ini bantuan dari beberapa menteri dengan dana pribadi kepada masyarakat," tambah Haili.

Relokasi ini diharapkan menjadi solusi permanen bagi masyarakat Aceh Tengah untuk keluar dari bayang-bayang ketakutan. Dengan menempati lokasi yang lebih stabil secara geologis, warga diharapkan dapat menata kembali kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Bencana ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang pentingnya mitigasi bencana dan penataan ruang yang berbasis pada karakteristik alam. Bagaimana pendapat Anda mengenai langkah relokasi sebagai solusi mitigasi bencana jangka panjang?

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close