| Menteri Yandri Susanto meyakini Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar bantuan pangan, melainkan mesin penggerak ekonomi melalui konsep desa tematik dan ketahanan pangan. / Foto: Ist. |
Dalam sebuah diskusi santai namun substantif di kediaman dinasnya di Jakarta, Senin (16/3/2026), Yandri menyoroti bagaimana rantai pasok bahan pangan untuk program nasional ini dapat memberdayakan petani dan peternak lokal secara langsung.
"Insya Allah, kegiatan MBG ini punya potensi besar untuk menaikkan taraf hidup masyarakat desa," ujar Yandri, menyoroti efek ganda dari program tersebut.
Sudut pandang menarik yang ditawarkan Yandri adalah transformasi desa menjadi pusat produksi spesialis, atau yang disebut sebagai "Desa Tematik". Konsep ini dirancang agar setiap desa tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam menyuplai kebutuhan bahan pokok program MBG.
Alih-alih mendatangkan bahan baku dari pemasok besar di kota, program ini mendorong desa untuk mengoptimalkan potensi lokal mereka.
"Desa ayam petelur, desa jagung, desa ikan lele, ikan nila, hingga desa ayam pedaging; itu muncul sekarang," jelas mantan Wakil Ketua MPR RI tersebut.
Mekanisme ini didukung oleh kebijakan fiskal yang konkret. Yandri mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, sebesar 20 persen dari Dana Desa dialokasikan khusus untuk program ketahanan pangan. Strategi ini memastikan bahwa ketika permintaan bahan pangan untuk MBG meningkat, desa sudah siap dengan pasokan yang memadai, menciptakan siklus ekonomi yang berputar di tingkat akar rumput.
Selain dampak ekonomi, Yandri menekankan urgensi program ini dari sisi kemanusiaan. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan gizi di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan serius.
Banyak warga desa, menurut Yandri, masih kesulitan mengakses sumber protein hewani secara rutin. Kehadiran MBG menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut.
"Banyak warga desa itu memang secara gizi belum layak. Mereka jarang makan telur, jarang makan ayam, asupannya kurang," ungkapnya dengan nada prihatin. "Nah, dengan adanya MBG ini mereka sangat berterima kasih."
Di tengah munculnya berbagai diskursus publik mengenai efektivitas program ini, Yandri mengambil sikap tegas. Ia menilai bahwa pandangan yang meminta penghentian program MBG adalah sebuah kekeliruan, mengingat dampak langsung yang dirasakan oleh penerima manfaat.
Dukungan terhadap program ini bukan hanya soal memberi makan, tetapi membangun ekosistem kesehatan dan ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sinergi antara pemenuhan gizi anak bangsa dan pemberdayaan ekonomi petani lokal menjadikan program ini sebagai salah satu instrumen vital dalam pembangunan daerah tertinggal. Keberhasilan implementasinya kini bergantung pada pengawalan ketat agar rantai pasok benar-benar berasal dari desa, untuk desa.
Social Footer