![]() |
| Sanjo adalah tradisi berkunjung dari rumah ke rumah saat Lebaran di Palembang. Warisan Kesultanan ini menjadi perekat sosial tanpa sekat status dan usia di tengah masyarakat. / Foto: Ist. |
Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus interaksi tatap muka, Sanjo hadir sebagai pengingat bahwa esensi Lebaran di "Bumi Sriwijaya" adalah tentang kehadiran fisik, jabat tangan yang erat, dan percakapan hangat antarsesama.
Secara etimologis, istilah Sanjo diambil dari bahasa lokal Palembang yang bermakna “berkunjung” atau “bertamu”. Namun dalam praktiknya, Sanjo melampaui definisi sederhana tersebut. Ini adalah pergerakan massal masyarakat—mulai dari keluarga inti, kerabat jauh, hingga tetangga—untuk saling mendatangi kediaman satu sama lain.
Biasanya dimulai tepat setelah pelaksanaan salat Idulfitri, jalanan di pemukiman warga Palembang akan dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian terbaik mereka, berjalan kaki atau berkendara menuju rumah kerabat. Tidak ada undangan resmi yang diperlukan; dalam tradisi Sanjo, setiap rumah adalah destinasi yang terbuka.
Aktivitas ini menjadi manifestasi nyata dari konsep open house yang natural. Tuan rumah menyambut tamu dengan tangan terbuka, menciptakan suasana yang cair, penuh canda tawa, dan rasa kekeluargaan yang kental.
Akar tradisi ini dapat ditelusuri jauh ke belakang, terjalin erat dengan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di wilayah Sumatera Selatan. Sanjo diyakini telah menjadi bagian dari tatanan sosial masyarakat sejak era Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-17 hingga ke-19.
Pada masa kejayaan kesultanan, ajaran Islam yang menekankan hablum minannas (hubungan baik antarmanusia) ditanamkan secara mendalam. Para ulama dan pemimpin masa itu mendorong umat untuk memanfaatkan momentum Idulfitri sebagai waktu terbaik untuk saling memaafkan dan mempererat ukhuwah.
Dari dorongan religius inilah, kebiasaan saling mengunjungi terbentuk dan perlahan melembaga menjadi budaya. Sanjo bertransformasi dari sekadar anjuran agama menjadi identitas budaya masyarakat Melayu Palembang yang menjunjung tinggi nilai silaturahmi.
Tidak lengkap rasanya membicarakan Sanjo tanpa menyinggung sajian kuliner yang menyertainya. Dalam tradisi ini, meja makan berfungsi sebagai "pusat diplomasi" yang mencairkan suasana.
Ketika tamu datang untuk be-sanjo (melakukan Sanjo), tuan rumah akan menyuguhkan hidangan khas Lebaran. Menu-menu berat seperti ketupat, opor ayam, dan rendang menjadi sajian utama yang memanjakan lidah. Selain itu, aneka kue tradisional khas Palembang yang manis dan legit—seperti maksuba, lapis legit, atau kue delapan jam—kerap hadir sebagai simbol penghormatan kepada tamu.
Momen makan bersama inilah yang sering kali menjadi jembatan untuk mencairkan ketegangan, menyelesaikan konflik lama, atau sekadar memperbarui kabar dengan sanak saudara yang lama tak bersua.
Salah satu aspek paling manusiawi dan menyentuh dari tradisi Sanjo adalah sifatnya yang egaliter. Saat tradisi ini berlangsung, sekat-sekat sosial seolah runtuh.
Tidak ada batasan usia maupun status ekonomi. Seorang atasan bisa saja bertamu ke rumah bawahan, orang tua mengunjungi yang muda, dan warga mampu berbaur dengan warga sederhana dalam satu ruang tamu. Semua melebur dalam semangat Idulfitri.
Nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi kearifan lokal Palembang tercermin jelas di sini. Sanjo mengajarkan bahwa di hari kemenangan, setiap individu memiliki kedudukan yang setara sebagai manusia yang saling membutuhkan maaf dan koneksi sosial.
Di zaman ketika ucapan selamat Lebaran bisa dikirimkan hanya melalui pesan singkat atau media sosial, tradisi Sanjo menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi: sentuhan personal.
Masyarakat Palembang tetap menjaga tradisi ini lestari karena menyadari bahwa pertemuan fisik memiliki energi penyembuh yang berbeda. Sanjo menjadi momentum untuk merajut kembali ikatan yang mungkin sempat renggang atau longgar karena kesibukan dan jarak.
Bagi generasi muda Palembang, Sanjo bukan hanya tentang makan enak atau mendapat tunjangan hari raya (THR), melainkan sebuah pendidikan karakter tentang pentingnya menghargai tamu dan merawat hubungan persaudaraan.
Dengan segala keunikannya, Sanjo membuktikan bahwa Lebaran di Palembang lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia adalah perayaan kemanusiaan. Tradisi ini mengajak kita merenung bahwa kebahagiaan sejati di hari raya tidak terletak pada baju baru yang dikenakan, melainkan pada hangatnya tawa yang dibagi bersama di ruang tamu tetangga.

Social Footer