| Desa Adat Semate, Badung, memiliki tradisi unik Mbed-Mbedan yang digelar sehari setelah Nyepi. Ritual tarik tambang ini menyimbolkan persatuan dan sejarah desa sejak tahun 1474. / Foto: Antara |
Sorak-sorai membahana ketika dua kelompok warga saling adu kekuatan menarik tali. Namun, berbeda dengan kompetisi olahraga pada umumnya, di sini tidak ada medali emas atau hadiah uang tunai. Yang diperebutkan adalah sesuatu yang jauh lebih berharga: kebersamaan, kerukunan, dan ingatan kolektif tentang sejarah desa.
Mbed-Mbedan bukan sekadar permainan rakyat. Tradisi ini menyimpan narasi sejarah yang merentang hingga tahun 1474 Masehi atau 1396 Saka. Berdasarkan catatan lontar Raja Purana yang tersimpan di Desa Adat Kapal, ritual ini berakar dari konflik di Kerajaan Waturenggong yang memicu eksodus keluarga besar I Gusti Pasek Gelgel.
Pemangku Pura Kahyangan Putih Semate, Jero Mangku Made Sukarta, menjelaskan bahwa pemicu peristiwa bersejarah tersebut adalah perselisihan asmara yang melibatkan istana.
"Pemicunya adalah perselisihan saat putri raja, Dewa Ayu Laksmi, dipersunting oleh seorang kaum bujangga waisnawa yang membuat raja murka. Situasi memanas hingga membuat kelompok bujangga dan sanak saudara Pasek Gelgel memilih pergi mencari tempat aman," tuturnya.
Pelarian tersebut membawa mereka ke sebuah hutan angker yang dipenuhi pohon kayu putih di selatan Desa Kapal—wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Semate. Di sanalah mereka bertemu dengan seorang resi bernama Mpu Bantas, yang menyarankan pembangunan tempat pemujaan.
Proses penamaan desa dan pura tersebut diwarnai oleh perdebatan sengit atau tarik-ulur pendapat antarwarga. Untuk mengenang dinamika pengambilan keputusan itulah, Mpu Bantas memberikan bhisama (amanat) agar warga menggelar tradisi tarik-menarik setiap tahun.
"Nama Semate sendiri memiliki arti bahwa warga sudah teguh pendirian untuk sehidup semati tinggal di sini," jelas Sukarta.
Pelaksanaan Mbed-Mbedan diawali dengan rangkaian prosesi sakral. Sebelum matahari meninggi, warga berkumpul di Pura Desa dan Puseh serta Pura Kahyangan Putih Semate untuk melakukan persembahyangan bersama.
Para pemangku menghaturkan sesaji berupa banten daksina suci, tipat, dan bantal di arena. Persembahan tipat (ketupat) dan bantal (jajanan dari ketan) ini menyimbolkan purusa-pradana atau penyatuan unsur laki-laki dan perempuan—sebuah konsep keseimbangan kosmis dalam Hindu Bali.
Setelah doa dipanjatkan, barulah ritual Mbed-Mbedan dimulai di jaba (halaman luar) pura. Peserta dibagi berdasarkan kelompok: diawali oleh para pemangku lanang istri (laki-laki dan perempuan), diikuti oleh krama (warga) dewasa, kemudian para yowana (pemuda-pemudi), dan diakhiri dengan partisipasi warga umum serta anak-anak.
Diringi tabuhan gamelan baleganjur yang rancak, suasana menjadi semakin semarak. Tawa pecah ketika salah satu pihak berhasil menarik lawan melewati garis batas, atau ketika kedua kubu sama-sama jatuh bergulingan di tanah.
Salah satu ciri khas Mbed-Mbedan adalah penggunaan alat tariknya. Secara tradisional, ritual ini menggunakan bun kalot, sejenis tanaman merambat yang tumbuh liar di area setra (kuburan) Desa Adat Semate.
Namun, perubahan ekosistem membuat keberadaan tanaman ini semakin langka. Sebagai adaptasi, masyarakat kini menggunakan tali tambang biasa untuk keperluan tarik-menarik yang intens. Meski demikian, potongan bun kalot tetap dihadirkan dan diikatkan pada tali tambang sebagai syarat simbolis agar keaslian ritual tetap terjaga.
Di balik adu otot dan keringat, Mbed-Mbedan mengajarkan filosofi mendalam tentang penyelesaian konflik. Tarik-menarik tali menggambarkan dinamika perbedaan pendapat dalam masyarakat. Namun, pada akhirnya, semua ketegangan itu harus diakhiri dengan tawa dan perdamaian.
"Mbed-Mbedan dimainkan bukan untuk mencari siapa pemenang, namun lebih pada perayaan syukur, dan suka cita dalam mempertahankan kekompakan, kerukunan persaudaraan warga adat," tegas Sukarta.
Setelah permainan usai, tidak ada dendam yang tersisa. Seluruh warga kembali berkumpul untuk makan bersama (megibung) dan saling bermaaf-maafan. Momen ini menjadi penutup sempurna bagi rangkaian Hari Raya Nyepi, menandai awal tahun baru Saka dengan hati yang bersih dan hubungan sosial yang harmonis.
Meski memiliki akar sejarah yang kuat, Mbed-Mbedan sempat mengalami masa vakum yang cukup lama. Tradisi ini seolah "tertidur" dan tidak dilaksanakan selama bertahun-tahun karena berbagai alasan.
Titik balik terjadi pada tahun 2002, ketika salah satu warga bertemu dengan Ketut Sudarsana—seorang pengajar yang kini menjabat sebagai Bendesa Adat Kapal. Sudarsana menemukan kata "Semate" dalam lontar Bhuwana Tattwa dan berhasil mengaitkannya dengan Raja Purana Desa Adat Semate. Penemuan ini membuka kembali lembaran sejarah yang sempat terlupakan.
Berbekal pemahaman baru tentang filosofi di balik nama desa mereka, warga sepakat menghidupkan kembali Mbed-Mbedan pada tahun 2011. Sejak saat itu, tradisi ini rutin digelar setiap Ngembak Geni, kecuali saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020-2022. Kini, Mbed-Mbedan telah kembali sepenuhnya, menjadi kebanggaan dan identitas kultural Desa Adat Semate.
Bagi masyarakat Desa Adat Semate, Mbed-Mbedan lebih dari sekadar atraksi budaya. Ia adalah benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini—sebuah pengingat bahwa di balik perbedaan pendapat, tujuan akhir sebuah komunitas adalah persatuan yang sehidup semati.
Social Footer