Breaking News

Harmoni Nyepi dan Takbiran Dari Desa Pancasila Balun

Harmoni Nyepi dan Takbiran Desa Balun
Warga Desa Balun, Lamongan, tunjukkan toleransi tinggi saat Nyepi beriringan dengan malam takbiran
Sambangdesa.com / Lamongan, Jawa Timur – Di tengah keberagaman Indonesia, sebuah desa kecil di Kabupaten Lamongan kembali membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat pemisah, melainkan jembatan persaudaraan. Warga Desa Balun, Kecamatan Turi, memastikan bahwa perayaan Hari Raya Nyepi yang tahun ini beriringan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah, akan berlangsung dalam harmoni yang syahdu.

Di desa yang dijuluki sebagai "Desa Pancasila" ini, suara gema takbir umat Muslim dan keheningan Catur Brata Penyepian umat Hindu diproyeksikan akan berjalan berdampingan tanpa gesekan. Fenomena langka ini menjadi sorotan sebagai model toleransi beragama yang autentik di Indonesia.

Bagi penduduk setempat, hidup berdampingan bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari. Wisnu Adi Pramono, seorang pemuda Hindu di Desa Balun, menuturkan bahwa masyarakat tidak pernah memandang ritual ibadah yang berbeda sebagai gangguan.

"Di sini toleransi sangat tinggi. Kami tidak pernah mempermasalahkan ibadah masing-masing," ujar Wisnu saat ditemui di Lamongan, Selasa (17/3/2026).

Ia menegaskan bahwa tidak ada ego sektoral dalam pelaksanaan hari besar ini. Fleksibilitas dan saling pengertian menjadi kunci.

"Jika umat Muslim takbiran keliling, silakan. Kami yang sedang Nyepi tetap menjalankan ibadah kami dengan khidmat," tambahnya.

Untuk memastikan situasi tetap kondusif, para pemimpin agama—mulai dari pihak pura, takmir masjid, hingga pendeta gereja—telah duduk bersama melakukan koordinasi matang. Langkah preventif ini diambil untuk menjamin kenyamanan seluruh umat, baik yang merayakan kemenangan Idul Fitri maupun yang menjalani penyucian diri saat Nyepi.

Salah satu sorotan paling menarik dari persiapan tahun ini adalah proses kreatif di balik pawai ogoh-ogoh. Menjelang perayaan, warga menyiapkan enam ogoh-ogoh berukuran besar yang akan diarak di Alun-alun desa.

Yang membuat momen ini terasa sangat manusiawi dan menyentuh adalah keterlibatan warga lintas agama. Wisnu mengungkapkan bahwa proses pembuatan patung raksasa tersebut bukan hanya kerja keras umat Hindu semata.

"Pembuatan ogoh-ogoh melibatkan warga lintas agama, termasuk umat Muslim dan Kristen, terutama pada tahap awal yang membutuhkan banyak tenaga fisik," jelasnya.

Gotong royong ini memangkas waktu pengerjaan secara signifikan. Jika biasanya memakan waktu tiga hingga empat bulan, tahun ini warga Desa Balun mampu mengejar target hanya dalam waktu satu bulan dengan progres yang kini telah mencapai 85 persen.

"Meski singkat, kami optimistis bisa tuntas untuk pawai besok," kata Wisnu dengan nada penuh semangat. Peristiwa di Desa Balun ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri bahkan dunia. Ketika momentum sakral Nyepi bertemu dengan kemeriahan takbiran, warga Desa Balun memilih jalan tengah: saling menghormati. Ini adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila hidup subur dalam praktik nyata, bukan sekadar teori. Desa Balun mengajarkan kita bahwa kedamaian tidak tercipta dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk merayakan perbedaan dengan hati yang terbuka.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close