Breaking News

Candi Tegowangi, Misteri Penyucian Majapahit di Kediri

Candi Tegowangi: Misteri Penyucian Majapahit
Menelusuri Candi Tegowangi di Kediri, situs peninggalan Majapahit yang menyimpan relief Sudamala dan misteri pembangunan yang tak rampung. / Foto: Ist.
Sambangdesa.com / Kediri – Di tengah ketenangan lanskap agraris Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, berdiri sebuah monumen bisu dari masa senja Kerajaan Majapahit. Candi Tegowangi, sebuah situs arkeologi yang dibangun sekitar tahun 1400 Masehi, bukan sekadar tumpukan batu andesit, melainkan sebuah narasi visual tentang ruwatan atau penyucian diri yang terukir abadi.

Situs ini menawarkan oase ketenangan bagi para pencinta sejarah yang ingin menjauh dari hiruk-pikuk kota, menyajikan perpaduan antara keagungan arsitektur masa lalu dan keasrian alam pedesaan Jawa Timur.

Monumen Pendharmaan yang Tak Rampung
Candi Tegowangi, yang dalam beberapa literatur lama disebut sebagai Candi Sentul, memiliki nilai historis yang signifikan sebagai tempat pendharmaan (pemujaan arwah leluhur) bagi Bhre Matahun. Beliau adalah sepupu sekaligus ipar dari Raja Hayam Wuruk, penguasa terbesar Majapahit.

Menurut catatan dalam Kitab Negarakertagama dan Pararaton, Bhre Matahun mangkat pada tahun 1388 Masehi. Mengikuti tradisi Hindu-Jawa kuno, upacara sraddha untuk menyucikan arwah dilakukan 12 tahun setelah kematian, yang menempatkan masa pembangunan candi ini pada awal abad ke-15.

Namun, ada sisi humanis yang menyentuh dari situs ini: ketidaksempurnaan. Para arkeolog mencatat bahwa pembangunan Candi Tegowangi tampaknya terhenti secara mendadak sebelum tuntas sepenuhnya.

"Indikasi terhentinya pembangunan terlihat jelas dari beberapa panel relief dan pilar yang masih polos. Teknik pengerjaan masa itu, yang mengukir dari atas ke bawah setelah batu ditumpuk, menyisakan jejak pekerjaan yang ditinggalkan," catat laporan pemugaran tahun 1983.

Relief Sudamala: Narasi Penyucian Jiwa
Daya tarik utama dan "jiwa" dari Candi Tegowangi terletak pada 14 panel relief yang mengelilingi kaki candi. Relief ini mengisahkan cerita Sudamala, sebuah epos populer di kalangan masyarakat Jawa kuno yang berkaitan erat dengan ritual pengruatan (penyucian).

Pengunjung diajak membaca kisah transformasi Dewi Durga—yang dikutuk menjadi raksasa jahat—kembali menjadi Dewi Uma yang baik hati berkat bantuan Sadewa, salah satu dari Pandawa. Alur cerita ini dapat diikuti dengan metode pradaksina (mengelilingi candi searah jarum jam), dimulai dari sisi utara, menuju barat, dan berakhir di selatan.

Selain relief utama, arsitektur candi diperkaya dengan keberadaan Gana, sosok kerdil yang digambarkan duduk jongkok dengan tangan terangkat, seolah-olah sedang menopang beban bangunan candi di pundaknya. Di bagian bilik utama, terdapat yoni dengan cerat naga, yang menegaskan identitas situs ini sebagai tempat pemujaan Hindu Siwa.

Harmoni Alam dan Kearifan Lokal
Berbeda dengan situs wisata yang terlalu komersial, Candi Tegowangi menawarkan suasana yang lebih intim dan autentik. Area terbuka di sekitar candi sangat terawat dan bersih, menciptakan suasana kontemplatif yang ideal untuk mempelajari sejarah.

Nilai tambah dari kunjungan ke sini adalah interaksi dengan kehidupan lokal. Di sekitar gerbang masuk, pengunjung dapat menemukan peternakan lebah madu yang dikelola warga. Kehadiran elemen agraris ini memberikan nuansa pedesaan yang kental, di mana warisan leluhur berdampingan harmonis dengan denyut ekonomi masyarakat modern.

Aksesibilitas dan Informasi Kunjungan
Lokasi Candi Tegowangi sangat strategis dan mudah dijangkau. Berjarak tempuh sekitar 30 hingga 45 menit dari pusat Kota Kediri, akses jalan menuju lokasi sudah beraspal mulus dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun empat.

Bagi wisatawan yang datang dari arah Surabaya atau Jombang, rute tercepat adalah melalui Kecamatan Pare, kemudian berbelok ke barat menuju Desa Tegowangi.

Informasi Praktis:
• Jam Operasional: Buka setiap hari pukul 07.00 – 16.00 WIB.
• Tiket Masuk: Tidak ada tarif tetap. Pengunjung cukup mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela untuk biaya perawatan dan kebersihan situs.

Candi Tegowangi adalah destinasi "wajib kunjung" bagi mereka yang ingin memahami filosofi Jawa kuno tentang penyucian diri. Mengamati detail ukiran batu yang berusia ratusan tahun di tengah kesunyian desa memberikan perspektif baru tentang betapa canggihnya peradaban nusantara di masa lampau.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close