Breaking News

Desa Temon Ekspor 11,5 Ton Gula Aren ke Tiga Negara

Desa Temon Ekspor Gula Aren Organik
esa Temon di Pacitan mengekspor 11,5 ton gula aren organik ke Malaysia, Belanda, dan Australia. Inisiatif ini menjadi bukti keberhasilan kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. / Foto: Ist.
Sambangdesa.com / Pacitan, Jawa TimurDesa Temon, Kabupaten Pacitan, mencatatkan tonggak sejarah baru dengan mengekspor 11,5 ton gula aren organik ke Malaysia, Belanda, dan Australia. Pelepasan ekspor ini dilakukan oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, di Desa Sejahtera Astra Temon, Kamis (15/2).

Ekspor ini memperkuat posisi produk unggulan desa di pasar internasional dengan nilai mencapai Rp535 juta. Dalam sambutannya, Yandri menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung keberhasilan Desa Temon menjadi desa eksportir.

“Saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi inisiator di Desa Temon. Hari ini kita melepas ekspor gula aren organik, yang tidak hanya membawa nama desa, tetapi juga mewakili Indonesia di pasar global,” ujar Yandri.

Sebelum prosesi pelepasan, Yandri sempat naik ke kabin truk bermuatan enam ton gula aren untuk memastikan kesiapan distribusi ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ia berpesan kepada pengemudi agar menjaga muatan dengan baik karena komoditas tersebut membawa nama besar daerah dan bangsa.

Yandri menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ekspor melalui tiga prasyarat utama: menjaga mutu, memastikan kuantitas, dan menjamin kesinambungan produksi. Hal ini dapat dicapai melalui penguatan budidaya tanaman aren dan regenerasi petani.

“Yang ada di belakang truk itu bukan sekadar gula aren, tetapi juga mewakili Pacitan, Jawa Timur, dan Merah Putih. Mari kita jaga kualitas, kuantitas, dan kesinambungan produksi,” tambahnya.

Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, menyebutkan bahwa ekspor gula aren organik ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi komoditas unggulan lain dari Pacitan, yang dikenal dengan julukan “70-Mile Sea Paradise”.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri, kolaborasi adalah kunci. Sumber daya manusia desa juga perlu diperkuat agar mampu mengenali dan mengelola potensi yang ada,” ujar Indrata.

Perwakilan manajemen Astra, yang hadir dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa keberhasilan ekspor ini merupakan hasil kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha melalui Program Desa Sejahtera Astra. Sejak 2018, Astra telah membina 1.280 desa di 35 provinsi, dengan 548 desa berhasil menembus pasar internasional dan mencatatkan valuasi ekspor kumulatif sebesar Rp411 miliar dalam lima tahun terakhir.

Khusus di Pacitan, program Desa Sejahtera Astra melibatkan 400 masyarakat dari lima desa melalui pendampingan Temon Agro Lestari. Pembinaan ini mencakup pelatihan pra-SNI organik, penerapan Internal Control System (ICS), penguatan proses produksi hulu-hilir, audit sistem manajemen pangan (HACCP), hingga pembangunan dapur bersih petani.

Program pembinaan tersebut telah meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 50 persen dengan tingkat penyerapan produk gula aren mencapai 100 persen. Ekosistem produksi gula aren organik yang berkelanjutan ini juga memperkuat daya saing produk di pasar ekspor.

Manajemen Astra menyebut momentum ekspor ini sebagai bukti kesiapan produk unggulan desa bersaing di pasar global. Desa Temon kini ditetapkan sebagai salah satu model desa ekspor berbasis komoditas organik di Pacitan.

“Dengan standar mutu dan keberlanjutan yang terus dibangun, Desa Temon menunjukkan bahwa produk unggulan desa dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional,” jelas perwakilan Astra.

Pelepasan ekspor gula aren organik dari Desa Temon menandai langkah penting dalam mengangkat potensi desa ke pasar internasional. Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, Desa Temon tidak hanya berhasil memperkuat posisi gula aren di pasar global, tetapi juga menjadi model pemberdayaan desa yang inklusif dan berkelanjutan.

Apakah keberhasilan Desa Temon dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia? Hanya kerja sama dan kesinambungan yang dapat menjawabnya.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close