![]() |
| Cap Go Meh di Singkawang menghadirkan ritual Tatung, simbol kekuatan spiritual dan harmoni antaretnis. / Foto: Ist. |
Cap Go Meh menandai puncak perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15. Di Singkawang, ritual ini menjadi istimewa dengan kehadiran para Tatung—sosok perantara yang diyakini tubuhnya "dipinjam" oleh roh dewa atau leluhur. Dalam kondisi trans, para Tatung menunjukkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, seperti pedang atau paku, tanpa mengalami luka. Aksi ini dipercaya sebagai simbol kekuatan spiritual yang melindungi kota dan warganya.
Namun, perayaan ini bukan hanya sekadar pertunjukan. Bagi masyarakat lokal, ritual Tatung adalah bentuk penghormatan kepada leluhur serta sarana untuk membersihkan energi negatif dari kota.
Satu hari sebelum puncak Cap Go Meh, tepatnya pada hari ke-14 Imlek, masyarakat Singkawang melaksanakan ritual Cuci Jalan atau Ket Sam Thoi. Ritual ini bukan sekadar pawai, melainkan prosesi sakral yang bertujuan untuk membersihkan kota dari kemalangan dan energi negatif.
Makna di Balik Ritual Cuci Jalan:
1. Tolak Bala
Ritual ini bertujuan mengusir energi buruk yang dapat mengancam kesejahteraan warga.
2. Memohon Keselamatan
Masyarakat berdoa agar Singkawang senantiasa aman, damai, dan diberkahi.
Sebagai pusat spiritual, vihara ini menjadi titik awal prosesi pembersihan jalan yang dipimpin oleh para Tatung.
Dalam prosesi ini, kekebalan tubuh para Tatung menjadi daya tarik utama. Mereka menampilkan aksi menakjubkan, seperti menusukkan benda tajam ke kulit tanpa terluka, yang bagi masyarakat lokal bukan sekadar hiburan, melainkan manifestasi kehadiran roh leluhur dan dewa.
Sejarah Panjang Ritual Tatung
Ritual Tatung memiliki akar budaya yang sangat tua, berasal dari masa Dinasti Tung Zhou di Tiongkok (770–256 SM). Tradisi ini dibawa ke Indonesia oleh imigran Tionghoa yang menetap di Kalimantan Barat. Pada masa lalu, Tatung sering digunakan dalam ritual Ta Ciau, yaitu upacara untuk mengusir wabah penyakit.
Namun, perjalanan tradisi ini tidak selalu mulus. Di masa Orde Baru, semua perayaan budaya Tionghoa dilarang tampil di ruang publik. Baru pada era reformasi, di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), larangan tersebut dicabut, membuka jalan bagi kebangkitan kembali tradisi Cap Go Meh Singkawang.
Kini, festival ini telah menjadi agenda resmi pemerintah daerah, bahkan masuk ke dalam kalender pariwisata nasional. Kehadiran tokoh-tokoh penting, seperti wali kota dan pejabat daerah, menegaskan bahwa Cap Go Meh adalah perayaan budaya yang melampaui batas etnis, menjadi kebanggaan seluruh warga Singkawang.
Salah satu keunikan Cap Go Meh Singkawang adalah akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan Dayak. Ritual Tatung melibatkan kedua kelompok etnis ini, yang masing-masing membawa ciri khas budaya mereka.
Tatung Tionghoa mengenakan pakaian ala panglima perang Tiongkok kuno, sementara Tatung Dayak tampil gagah dengan atribut khas suku Dayak, seperti bulu burung enggang dan hiasan kepala tradisional.
Tabuhan drum dan simbal Tionghoa berpadu harmonis dengan musik tradisional Dayak, menciptakan irama unik yang hanya bisa ditemukan di Singkawang.
Ritual ini menjadi simbol nyata harmoni antaretnis dan agama di Indonesia, menunjukkan bahwa perbedaan adalah kekayaan yang mempererat kebersamaan.
Saat ini, Cap Go Meh Singkawang telah menjadi destinasi wisata budaya internasional. Setiap tahun, ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri datang untuk menyaksikan kemegahan festival ini.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal
a. Pariwisata
Hotel-hotel, restoran, dan UMKM lokal mengalami peningkatan pendapatan signifikan selama perayaan berlangsung.
b. Pengembangan Budaya
Pemerintah daerah memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan budaya lokal ke panggung dunia.
Dengan dukungan penuh pemerintah, Cap Go Meh Singkawang kini menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang dikenal luas, tidak hanya di Asia, tetapi juga di dunia internasional.
Cap Go Meh di Singkawang adalah lebih dari sekadar festival. Ini adalah perayaan spiritual, penghormatan terhadap leluhur, dan simbol harmoni antaretnis. Dari ritual Tatung hingga keramahan masyarakat lokal, setiap elemen acara ini mengajarkan tentang pentingnya toleransi dan keberagaman.
Bagi Anda yang belum pernah menyaksikan langsung, Cap Go Meh Singkawang adalah pengalaman sekali seumur hidup yang tak boleh dilewatkan. Di tengah aroma hio yang membumbung, mistisme Tatung, dan kehangatan warga, Anda akan pulang dengan pemahaman baru bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan pemisah.

Social Footer