Sambangdesa.com /Sleman – BUMDes Oerip Soemohardjo di Sardonoharjo, Sleman, menjadi contoh pengelolaan profesional yang memperkuat ekonomi desa melalui inovasi dan tata kelola akuntabel, didukung monitoring kinerja dan penyertaan modal.
Di tengah upaya membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, menempatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak utama. BUMDes Oerip Soemohardjo, yang berdiri di bawah kepemimpinan Direktur Cahyo Binarto, telah bertransformasi menjadi entitas strategis yang dikelola secara profesional dan berorientasi jangka panjang.
Salah satu unit unggulan BUMDes Oerip Soemohardjo adalah Halo Bumdes Farm, yang bergerak di sektor pangan. Tidak sekadar menjalankan produksi, Halo Bumdes Farm juga berkembang menjadi ruang pembelajaran dan inovasi, bahkan kerap menjadi referensi studi banding bagi BUMDes dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk luar Pulau Jawa.
Komitmen BUMDes Oerip Soemohardjo dalam membangun ekonomi desa mendapat perhatian dari Tim Monitoring dan Evaluasi Dinas PMK Kabupaten Sleman dan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM). Penilaian yang dipimpin Siska Wulandari pada Selasa (20/1/2026) ini bertujuan menilai kinerja, sekaligus mengidentifikasi tantangan serta peluang pengembangan di masa mendatang.
Evaluasi ini menjadi sangat penting, mengingat pada 2025 seluruh BUMDes di Sleman menerima penyertaan modal sebesar 20 persen dari Dana Desa. Kebijakan ini menuntut BUMDes untuk siap secara kelembagaan dan mampu menyesuaikan program dengan kebijakan nasional, khususnya dalam mendukung Asta Cita pemerintah membangun Indonesia dari desa.
Direktur BUMDes, Cahyo Binarto, mengungkapkan bahwa pada 2026 BUMDes Oerip Soemohardjo menerima penyertaan modal senilai Rp405.620.000. Dana ini direncanakan untuk memperkuat sektor peternakan, perikanan, dan pertanian—tiga sektor strategis yang mendukung ketahanan pangan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“BUMDes tidak hanya sebagai instrumen pemberdayaan, tapi juga berperan dalam peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes). Pengelolaan profesional dan pemilihan unit usaha yang tepat menjadi kunci kontribusi nyata bagi keuangan desa,” ujar Cahyo Binarto.
Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Agung Margandhi, menekankan pentingnya penerapan tata kelola keuangan berbasis standar akuntansi agar laporan keuangan dapat tersaji secara real time. “Transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa,” tegasnya.
Kegiatan monitoring dan evaluasi tidak hanya menjadi wadah penilaian, tetapi juga ruang dialog konstruktif antara pemerintah daerah, pendamping, dan pengelola BUMDes. Proses ini memperkuat komitmen bersama agar BUMDes Oerip Soemohardjo terus menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan usaha desa di Kabupaten Sleman.
Transformasi BUMDes Oerip Soemohardjo di Sardonoharjo menunjukkan pentingnya inovasi, tata kelola profesional, dan transparansi dalam memperkuat ekonomi desa. Dengan penyertaan modal yang signifikan, pengembangan sektor strategis, serta dukungan evaluasi berkelanjutan, BUMDes ini diharapkan mampu menjadi model pengelolaan usaha desa yang inspiratif dan berkelanjutan.
Social Footer