Breaking News

Tonosho: Harmoni Warisan dan Keberlanjutan

Sambangdesa.com / Jepang – Di pesisir barat laut Pulau Shodoshima, Jepang, Kota Tonosho menawarkan sebuah kisah di mana warisan budaya, kelestarian alam, dan inovasi berjalan beriringan. Dengan hampir 40% wilayahnya berada di kawasan Taman Nasional Setonaikai, kota ini menjadi teladan bagaimana desa-desa pulau dapat tumbuh tanpa kehilangan akar tradisi maupun keasrian lingkungan.

Desa di Antara Alam dan Tradisi
Tonosho, yang membentang hingga pulau-pulau Teshima, Odeshima, dan Okinoshima di Laut Pedalaman Seto, dikenal akan lanskap hijau dan komunitas pedesaan yang hangat. Dengan populasi sekitar 12.000 jiwa, ekonomi lokal berputar di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan—semuanya dijalankan dengan prinsip ramah lingkungan.

Praktik pertanian zaitun berorientasi daur ulang, branding makanan laut lokal, dan upaya pengelolaan limbah menjadi bukti nyata komitmen pada keberlanjutan. Sementara itu, budaya terus hidup melalui pembuatan mi somen tarik tangan, produksi minyak wijen dan kecap tradisional, serta pementasan Kabuki Pedesaan Hitoyama yang diakui secara nasional.

Pariwisata Bertanggung Jawab: Revitalisasi Meironomachi
Meironomachi, distrik bersejarah di Tonosho, pernah menghadapi penurunan populasi dan banyaknya properti kosong. Namun, alih-alih membiarkan kawasan ini meredup, pemerintah dan masyarakat setempat memilih merangkul sejarahnya sebagai aset utama.

Lewat kolaborasi publik-swasta, rumah dan toko tua direvitalisasi menjadi ruang budaya dan proyek seni. Salah satu contohnya adalah Proyek Seni Meironomachi, di mana rumah kosong diubah menjadi museum pemenang penghargaan. Tur berpemandu oleh sukarelawan lokal kini menghidupkan kembali kawasan ini, membawa pengunjung menyelami sejarah dan tradisi Tonosho.

Subsidi pemerintah mendukung renovasi dan pemeliharaan bangunan tradisional, memastikan pelestarian arsitektur sekaligus menumbuhkan ekonomi lokal. Transformasi ini membuktikan bahwa masa lalu bisa menjadi fondasi bagi masa depan yang berkelanjutan.

Teshima: Pulau Seni dan Keberlanjutan
Pulau Teshima, bagian dari Kota Tonosho, dikenal sebagai "Pulau Seni" dan simbol pariwisata budaya berkelanjutan di Jepang. Museum Seni Teshima dan instalasi seni ruang terbuka menarik pengunjung tiga kali lipat dari jumlah penduduk saat musim puncak. Namun, pulau ini tetap menjaga keasliannya berkat inisiatif warga.

Petani dan nelayan lokal membuka pintu rumah mereka sebagai homestay, menawarkan pengalaman tinggal dan makan bersama dengan bahan pangan musiman hasil bumi dan laut Teshima. Model homestay ini tidak hanya memberi penghasilan tambahan, tetapi juga memperkuat identitas lokal serta meningkatkan kesadaran lingkungan.

Didukung subsidi dari Kota Tonosho, inisiatif pariwisata berkelanjutan seperti program pengurangan limbah dan kegiatan berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) terus berkembang. Teshima menjadi contoh bagaimana seni, tradisi, dan kesadaran komunitas dapat berjalan seiring dalam membangun pariwisata yang menghormati manusia dan alam.

Memperkuat Tradisi Lewat Ekonomi Lokal
Keberlanjutan di Tonosho tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga pelestarian tradisi dan penguatan ekonomi berbasis budaya. Pertanian zaitun dengan sistem daur ulang, produksi minyak wijen dan kecap sejak 1858, serta pembuatan mi somen secara tradisional telah menjadi identitas daerah.

Kabuki Pedesaan Hitoyama, kabuki pedesaan pertama di Jepang yang diakui nasional, tetap dilestarikan melalui subsidi dan dukungan pemerintah. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga bagian hidup masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Kesimpulan: Model Desa Berkelanjutan Jepang

Tonosho menampilkan model pengembangan desa yang memadukan kelestarian alam, pelestarian budaya, dan inovasi ekonomi secara harmonis. Kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan menjaga warisan sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Kisah Tonosho memperlihatkan bahwa desa-desa pulau di Jepang—dan di seluruh dunia—dapat tumbuh secara modern tanpa kehilangan nilai-nilai lokal. Apakah pengalaman Tonosho dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain dalam membangun masa depan yang berakar pada tradisi dan berorientasi pada keberlanjutan?

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close