Breaking News

Segajih Live In: Wisata Pulang ke Desa

Sambangdesa.com / Kulon Progo - Di tengah hiruk-pikuk kota, banyak orang merindukan hangatnya suasana pedesaan. Segajih Live In di Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, menghadirkan pengalaman “pulang ke rumah simbok” bagi siapa saja yang ingin merasakan kembali keaslian budaya, kehangatan masyarakat, dan keindahan alam desa.

Pedukuhan yang berada di Pegunungan Menoreh, berada di ketinggian 300 Mdpl, wilayah Kalurahan Hargotirto Kapanewon Kokap Kabupaten Kulon Progo ini. Berjarak 35 kilometer dari ibukota provinsi, di kota Jogyakarta.

Lumayan jauh perjalanan untuk menuju pedukuhan itu. Perjalanan satu jam lebih. Bukan jauhnya saja, tentunya perjalanan ke sana itu. Tapi juga jalan yang berkelak-kelok dan naik turun lembah-lembah Pegunungan Menoreh. Kendati demikian, tak susah menuju ke sana. Karena sepanjang jalan, tak ada jalan yang rusak: semua mulus dengan aspal hingga ke pedukuhan itu.

Untuk tahu Pedukuhan Segajih perlu, memang. Sebab di desa wisata itu banyak keunikannya. Bukan seperti desa-desa wisata kebanyakan dalam pengelolaan sebagai desa wisata.

Menghidupkan Kembali Kehangatan Desa

Bagi sebagian besar warga kota, kehidupan desa sering kali hanya menjadi kenangan atau bahkan sekadar angan. Segajih Live In menawarkan kesempatan unik untuk “pulang” ke desa, sekalipun bagi mereka yang tak lagi memiliki kampung halaman. Pengalaman ini tidak sekadar wisata, tetapi juga perjalanan emosional yang menghubungkan pengunjung dengan akar budaya dan kehidupan sederhana.

Ketua Segajih Live In, Haryanta, menuturkan bahwa banyak wisatawan datang untuk mencari suasana rumah kedua. “Banyak dari mereka yang tidak punya kampung halaman. Dengan datang ke sini, mereka bisa merasakan hidup di desa, belajar budaya, dan menikmati alam. Bahkan beberapa wisatawan sampai menangis ketika harus pulang,” ujarnya, Minggu (18/1/2026), di lereng Bukit Menoreh.

Paket Wisata Edukasi, Budaya, dan Alam

Segajih Live In menawarkan paket wisata lengkap dengan harga terjangkau, yaitu Rp150.000 per orang untuk satu hari kunjungan, termasuk konsumsi dan snack. Setiap paket dirancang agar pengunjung dapat merasakan pengalaman autentik desa, mulai dari edukasi budaya seperti membuat gula semut, membatik, hingga belajar karawitan dan tari tradisional.

Untuk mereka yang mencari petualangan, tersedia aktivitas outbound, icebreaking, dan susur Sungai Pelausan dengan menaiki dam-dam serta bermain air. Tak ketinggalan, pengalaman kuliner lokal menjadi daya tarik utama. Pengunjung dapat menikmati masakan tradisional seperti nasi tiplek, ingkung, sayur daun singkong, tempe goreng, dan sambal korek yang dimasak langsung oleh warga desa.

Bagi pelajar kota, pengalaman sederhana seperti melihat ayam berkeliaran, mengejar kupu-kupu, atau menemukan pohon unik menjadi hal baru yang membekas. “Bahkan beberapa pengunjung (yang pelajar), bertemu dengan hal-hal sederhana seperti melihat ayam, kupu-kupu, atau pohon unik adalah pengalaman baru yang menyenangkan,” kata Haryanta.

Menjawab Kerinduan dan Menguatkan Ekonomi Lokal
Segajih Live In bukan sekadar tentang aktivitas wisata, tetapi juga menjadi cara mengobati kerinduan akan kampung halaman. Konsep “Pulang ke Rumah Simbok” yang diusung, menciptakan rasa nyaman, ramah, dan sederhana bagi setiap pengunjung.

Kehadiran wisatawan membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal. Homestay, kuliner, dan aktivitas edukasi menambah penghasilan warga serta menjaga keberlanjutan budaya desa. “Kedatangan wisatawan tidak hanya memberi pengalaman unik, tapi juga menjaga budaya dan mendukung ekonomi lokal,” jelas Haryanta.

Destinasi Pilihan Wisatawan Nusantara dan Mancanegara
Dengan konsep wisata yang menyatukan edukasi, budaya, dan petualangan alam, Segajih Live In berhasil menarik minat wisatawan lokal hingga mancanegara. Pada 2025, kunjungan wisatawan tercatat mencapai 300–400 orang per bulan. Tak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, desa ini juga pernah menerima tamu dari Ukraina, Rusia, India, hingga mahasiswa pertukaran dari Jerman.

Aktivitas edukasi yang ditawarkan menjadi sarana untuk memahami budaya lokal secara mendalam, sekaligus mendukung penelitian ilmiah bagi pengunjung yang berasal dari latar belakang akademis.

Desa Wisata Unggulan Kulon Progo
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, menegaskan bahwa desa wisata berbasis alam kini menjadi andalan pariwisata daerah. Hal ini sejalan dengan tren wisatawan yang ingin beristirahat dari kebisingan kota dan merasakan kehidupan desa secara langsung.

Desa Segajih, salah satu dari 29 desa wisata di Kulon Progo, termasuk yang paling aktif menerima kunjungan. Selain menikmati keindahan alam dan budaya, wisatawan dapat belajar membatik, membuat gula semut, dan mengikuti pembelajaran terintegrasi dengan kurikulum sekolah.

Sutarman menyebutkan, desa wisata yang mampu mengelola kunjungan massal, terutama dari sekolah, akan menjadi tumpuan pengembangan ekonomi lokal. “Kendala utama desa wisata adalah promosi dan penggerak. Desa wisata harus punya keunikan dan pengelola yang ulet,” ujarnya.

Untuk mendukung pengembangan desa wisata, Dinas Pariwisata Kulon Progo menyiapkan berbagai program seperti open trip, penguatan paket wisata, pengembangan website, serta pelatihan tata kelola homestay. Targetnya, pariwisata desa dapat menjadi profesi utama warga dan mendukung ekonomi berkelanjutan.

Pulang ke Desa, Pulang ke Akar

Segajih Live In menghadirkan peluang bagi siapa pun yang ingin kembali merasakan kehangatan desa, memahami budaya lokal, dan menikmati alam yang masih asri. Melalui pengalaman edukasi, budaya, dan petualangan, Segajih tidak hanya mengobati kerinduan akan kampung halaman, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat desa dan menjaga warisan budaya.

Bagi Anda yang ingin sejenak meninggalkan hiruk-pikuk kota, Segajih Live In menawarkan pengalaman “pulang” yang sulit dilupakan. Pernahkah Anda merindukan suasana desa? Bagikan pengalaman atau harapan Anda tentang wisata desa yang ingin Anda kunjungi selanjutnya.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close