Breaking News

BUMDes Sungai Ana: Bisnis Solusi Sampah

Sambangdesa.com / Sintang - Pengelolaan limbah rumah tangga sering kali menjadi persoalan pelik di tingkat desa. Namun, bagi Desa Sungai Ana, tumpukan sampah justru dilihat sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan sekaligus solusi kebersihan lingkungan.

Kepala Desa Sungai Ana, Marlin Syahalam, menegaskan komitmen desanya untuk mandiri secara ekonomi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dalam keterangannya pada Selasa (23/12/2025), Marlin mengungkapkan bahwa saat ini BUMDes Sungai Ana tengah fokus mengelola dua lini usaha strategis: peternakan ayam petelur dan jasa layanan angkut sampah.

Dari kedua unit tersebut, sektor pengelolaan sampah menunjukkan perkembangan yang signifikan dan berdampak langsung pada keseharian warga.

Tarif Terjangkau, Layanan Prima
Unit usaha jasa angkut sampah dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat akan lingkungan yang bersih. Marlin menjelaskan bahwa layanan ini telah berjalan efektif dengan skema tarif yang terukur dan bersahabat.

Untuk satu keluarga, BUMDes menetapkan tarif retribusi sebesar Rp40.000 per bulan. Angka ini dinilai kompetitif untuk menjamin kebersihan lingkungan hunian tanpa membebani keuangan rumah tangga.

“Saat ini, jasa angkut sampah kita sudah berjalan. Tarif satu rumah sebesar Rp40.000 per bulan, tapi kalau volume sampahnya banyak, tarifnya disesuaikan,” ujar Marlin di sela-sela kegiatan sosialisasi Empat Pilar di Desa Sungai Ana.

Fleksibilitas harga ini diterapkan untuk menjaga asas keadilan; rumah tangga atau tempat usaha dengan produksi limbah lebih besar akan memberikan kontribusi subsidi silang yang proporsional.

Visi Mengubah Sampah Menjadi Emas
Lebih jauh, Marlin memaparkan visi jangka panjang BUMDes Sungai Ana. Ia tidak ingin unit usaha ini berhenti hanya sebagai "tukang angkut". Ambisi besarnya adalah mentransformasi BUMDes menjadi pusat pengolahan limbah yang memiliki nilai tambah ekonomi (value added).

“Ke depannya, semoga tidak hanya jasa angkut sampah saja, tetapi kita bisa mengembangkan pengelolaan sampah ini sehingga bisa memiliki nilai tambah,” tuturnya optimis.

Konsep ini sejalan dengan tren ekonomi sirkular, di mana sampah diolah kembali menjadi produk bernilai, seperti pupuk kompos atau bahan daur ulang, yang pada akhirnya akan melipatgandakan pendapatan desa.

Tantangan Infrastruktur
Meski memiliki visi yang kuat, Marlin mengakui bahwa realisasi di lapangan masih menghadapi kendala teknis. Hambatan utama saat ini adalah keterbatasan armada dan sarana pendukung operasional. Ketersediaan truk atau kendaraan pengangkut yang memadai sangat krusial untuk memperluas cakupan layanan.

Oleh karena itu, pihak desa membuka diri terhadap kolaborasi. Marlin berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak swasta untuk memperkuat kapasitas BUMDes.

"Harapannya BUMDes mendapatkan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak agar pengembangan usaha dapat berjalan optimal, sehingga BUMDes Sungai Ana dapat semakin maju dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa," pungkasnya.

Langkah BUMDes Sungai Ana membuktikan bahwa masalah lingkungan dapat diselesaikan dengan pendekatan kewirausahaan. Dengan manajemen yang tepat, sampah tidak lagi menjadi masalah, melainkan aset yang menghidupi desa. Kini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah visi besar tersebut menjadi realitas di tengah keterbatasan infrastruktur yang ada.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close