Breaking News

BUMDes Ciparay Sukses Ternak Ayam

Sambangdesa.com / Sukabumi - Di tengah hamparan pedesaan Sukabumi Selatan, sebuah inisiatif ekonomi baru tengah menggeliat. Suara riuh ribuan ayam di Desa Ciparay kini bukan sekadar aktivitas peternakan biasa, melainkan simbol kebangkitan kemandirian ekonomi desa.

Desa Ciparay, yang terletak di Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatatkan keberhasilan signifikan dalam mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Barokah. Melalui unit usaha peternakan ayam petelur, desa ini berhasil menerjemahkan anggaran ketahanan pangan menjadi mesin penggerak ekonomi lokal yang nyata.

Kepala Desa Ciparay, Asep Saepudin, mengungkapkan bahwa pemerintah desa tidak ragu menggelontorkan modal sebesar Rp 250 juta untuk memulai usaha ini. Dana tersebut dialokasikan secara komprehensif, mulai dari pembangunan kandang yang layak, penyediaan pakan berkualitas, pengadaan obat-obatan, hingga pembelian 1.000 ekor bibit ayam petelur.

Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam memanfaatkan anggaran ketahanan pangan desa.

"Alhamdulillah, dengan adanya regulasi terkait anggaran ketahanan pangan, Desa Ciparay bisa merealisasikannya ke pemeliharaan ayam petelur. Bibit mulai masuk sejak 9 Oktober lalu, dan kini sudah mulai masa produksi," ujar Asep saat ditemui pada Rabu (14/1/2026).

Meski baru berjalan beberapa bulan, hasil dari peternakan BUMDes Barokah mulai terlihat menjanjikan. Asep menjelaskan bahwa dari 1.000 ekor ayam yang dipelihara, tingkat produksi saat ini telah mencapai angka 60 persen.

"Produksi hari ini baru mencapai 60 persen. Karena ini masih telur pemula, ukurannya masih relatif kecil dengan estimasi sekitar 20 butir per kilogram. Total produksi harian kami saat ini berkisar antara 25 hingga 26 kilogram," papar Asep.

Tren produksi pun menunjukkan grafik positif. Setiap harinya, terjadi penambahan jumlah ayam yang mulai bertelur, berkisar antara 30 hingga 35 ekor per hari. Hal ini memberikan optimisme bahwa kapasitas produksi maksimal akan segera tercapai dalam waktu dekat.

Tantangan yang dihadapi BUMDes Barokah saat ini justru datang dari sisi permintaan. Tingginya antusiasme pasar lokal terhadap telur segar membuat pihak pengelola kewalahan. Asep mengakui bahwa suplai telur dari peternakan desa belum mampu menutupi besarnya kebutuhan pasar di wilayah Sukabumi Selatan.

"Pemasaran telur sangat banyak sekali. Kami bahkan belum bisa menutup permintaan pasar, masih kekurangan stok," kata Asep.

Kondisi "banjir pesanan" ini menjadi indikator kuat bahwa usaha ternak ayam petelur memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan berkelanjutan bagi Desa Ciparay.

Melihat respons pasar yang luar biasa, Asep berharap produksi peternakan yang dikelola BUMDes ini dapat terus meningkat. Keberadaan peternakan ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas ketahanan pangan warga, tetapi juga menjadi pilar utama ekonomi desa.

"Ke depannya, kami ingin melebarkan sayap usaha ini. Mudah-mudahan pangsa pasar di Sukabumi Selatan yang saat ini belum tertutup oleh produksi lokal, bisa kami penuhi," pungkasnya dengan nada optimistis.

Kisah sukses BUMDes Barokah di Desa Ciparay membuktikan bahwa dana desa, jika dikelola dengan visi yang jelas dan manajemen yang tepat, dapat melahirkan dampak ekonomi yang masif. Peternakan ayam petelur ini bukan hanya soal memproduksi telur, tetapi tentang bagaimana desa membangun kemandirian dan melayani kebutuhan warganya sendiri. Ini adalah contoh nyata bagaimana potensi lokal dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan bersama.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close