Sambangdesa.com / Lombok Timur - Suara ombak yang tenang dan rindangnya pepohonan mangrove menyambut setiap pengunjung di Ekowisata Bale Mangrove, Desa Poton Bako, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kawasan ini telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata alam yang semakin diminati, baik oleh wisatawan lokal maupun dari luar daerah.
Bale Mangrove menawarkan pengalaman wisata yang menyatu dengan alam. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati panorama laut dan hutan mangrove yang asri, tetapi juga bersantai di gazebo bersama keluarga atau teman sambil menikmati bekal makanan yang dibawa sendiri. Area ini juga menyediakan sejumlah ayunan dan spot foto estetik yang menarik minat generasi muda dan para pencinta fotografi.
Abdi, wisatawan lokal asal Lombok Timur, datang bersama keluarga kecilnya. Ia mengaku terkesan dengan pemandangan dari jembatan setapak yang melintasi hutan mangrove. “Dari sisi timur, kita bisa lihat gugusan pulau-pulau kecil di Kecamatan Keruak. Unik sekali,” ujarnya.
Selain untuk bersantai, Bale Mangrove juga menjadi pilihan lokasi berkemah. Rukayya, pengunjung dari Desa Kopang, Lombok Tengah, datang bersama rekan-rekannya setelah mengetahui destinasi ini dari media sosial. “Kami ingin mencoba camping di sini, suasananya memang cocok untuk berkemah,” ungkapnya.
Tak hanya keluarga, kawasan ekowisata ini juga kerap dikunjungi oleh mahasiswa yang tengah menjalani praktikum atau sekadar mencari tempat untuk melepas penat. “Kami ke sini untuk menikmati udara segar. Pohon mangrovenya tinggi dan rindang, membuat suasana jadi adem,” ujar Nina salah satu mahasiswa yang sedang berkunjung ke tempat itu, Sabtu (1/11/2025).
Jembatan kayu dan tepian pantai menjadi lokasi favorit untuk berfoto dan mengabadikan momen. Suasana yang eksotis dan instagramable menjadikan Bale Mangrove populer di berbagai platform media sosial, menambah daya tarik destinasi ini di kalangan muda.
Menurut Nurhasanah, petugas di pintu masuk, ribuan pohon mangrove di kawasan ini mulai ditanam pada 1990-an oleh LSM dan masyarakat setempat. “Dulu, setiap seratus pohon yang ditanam, ada upah Rp 4.000 dari pemerintah dan lembaga bantuan pusat,” jelasnya.
Keberadaan mangrove memiliki dampak besar bagi lingkungan sekitar. Tanaman ini berperan penting dalam menahan abrasi dan melindungi pemukiman warga dari terjangan ombak laut. “Beberapa kali air laut naik, tapi mangrove bisa menahan ombak supaya tidak sampai ke rumah warga,” ungkap seorang remaja desa.
Di luar kawasan ekowisata, deretan pedagang lokal turut meramaikan suasana, menawarkan berbagai makanan ringan, cenderamata, dan mainan anak-anak. “Di luar memang cukup panas, tapi begitu masuk ke dalam kawasan mangrove, udaranya langsung terasa sejuk dan nyaman,” tambah Abdi.
Tiket masuk yang terjangkau, hanya Rp 5.000 per orang, memungkinkan wisatawan menikmati keindahan alam sekaligus mendapatkan edukasi tentang pentingnya ekosistem mangrove. Lokasi Bale Mangrove dapat diakses sekitar 45 menit dari Kota Selong atau 1,5 jam perjalanan dari Kota Mataram melalui jalur Praya, Lombok Tengah.
Ekowisata Bale Mangrove kini menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengembangkan potensi wisata berkelanjutan di Lombok Timur. Destinasi ini tidak hanya menawarkan pesona alam, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya pelestarian ekosistem mangrove bagi generasi mendatang.
Bale Mangrove membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat nyata, baik bagi ekologi maupun ekonomi lokal. Dengan terus meningkatnya minat kunjungan wisatawan, kawasan ini berpotensi menjadi contoh pengembangan ekowisata berkelanjutan yang mampu menginspirasi daerah lain di Indonesia.

Social Footer