![]() | ||
| Lebaran Ketupat di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, menjadi tradisi unik sepekan setelah Idulfitri. Warga menyediakan ketupat gratis untuk pemudik yang melintas di jalur Trans Sulawesi. / Foto: Ist |
Inilah Lebaran Ketupat, tradisi warisan leluhur yang hingga kini tetap dirawat dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat setempat.
Lebaran Ketupat merupakan perayaan penutup rangkaian hari raya Idulfitri yang diselenggarakan satu minggu setelah 1 Syawal. Berbeda dari tradisi Lebaran pada umumnya, perayaan ini memiliki nuansa khas lokal yang membedakannya dari daerah lain di Indonesia.
Pada hari tersebut, setiap keluarga di Bolaang Mongondow menyiapkan hidangan berlimpah—mulai dari aneka ketupat dengan berbagai isian, lauk-pauk khas daerah, hingga kue tradisional. Namun, yang membuat tradisi ini istimewa adalah sifatnya yang terbuka: makanan tidak hanya disantap keluarga sendiri, melainkan disediakan untuk siapa saja yang datang bertamu.
"Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang," demikian gambaran suasana yang tercipta setiap tahunnya. Para tuan rumah bahkan kerap membungkuskan makanan sebagai bekal bagi pemudik yang hendak melanjutkan perjalanan.
Posisi geografis Bolaang Mongondow yang dilintasi jalan Trans Sulawesi menjadikan tradisi ini semakin bermakna. Jalur utama penghubung antarprovinsi di Pulau Sulawesi ini ramai dilalui pemudik—baik yang baru berangkat mudik maupun yang dalam perjalanan pulang ke kota perantauan.
Di sepanjang ruas jalan, warga mendirikan tenda-tenda yang berfungsi sebagai pos singgah. Pemudik yang kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang bisa berhenti sejenak, menikmati ketupat hangat dan berbagai hidangan tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Pemandangan ini menciptakan kontras yang menarik: di tengah arus mudik yang kerap identik dengan kelelahan dan kemacetan, Bolaang Mongondow justru hadir sebagai oasis keramahan. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi pengalaman yang membekas di hati.
Di balik hidangan yang tersaji, Lebaran Ketupat menyimpan fungsi sosial yang jauh lebih dalam. Bagi masyarakat Bolaang Mongondow yang merantau ke berbagai penjuru negeri, Lebaran Ketupat menjadi momen pulang kampung yang ditunggu-tunggu. Perayaan ini mempertemukan kembali keluarga dan handai taulan yang mungkin terpisah jarak dan waktu sepanjang tahun.
Di sela-sela menyantap ketupat, percakapan hangat mengalir—menanyakan kabar, berbagi cerita sukses dan tantangan di perantauan, serta mengenang masa kecil yang dilalui bersama. Ikatan yang sempat longgar karena kesibukan perlahan merajut kembali.
Lebaran Ketupat juga menjadi ajang strategis untuk mempererat hubungan antarwarga dan koordinasi perangkat desa. Dalam suasana informal nan akrab, berbagai hal bisa dibicarakan—mulai dari rencana pembangunan desa hingga penyelesaian masalah yang membutuhkan musyawarah.
Nilai gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Bolaang Mongondow termanifestasi nyata dalam tradisi ini. Persiapan makanan dilakukan bersama-sama, beban ditanggung kolektif, dan kebahagiaan dinikmati oleh semua.
Mengapa harus ketupat? Ternyata, makanan ikonik Lebaran ini menyimpan lapisan makna yang kaya. Bungkus ketupat yang dibuat dari janur—daun kelapa muda berwarna kuning—secara tradisional dimaknai sebagai penolak bala. Warna kuning dalam budaya Nusantara kerap diasosiasikan dengan kesucian dan perlindungan spiritual.
Bentuk ketupat yang menyerupai belah ketupat atau segi empat melambangkan prinsip Jawa "kiblat papat lima pancer"—empat penjuru mata angin dengan satu titik pusat. Filosofi ini mengajarkan bahwa ke mana pun arah hidup manusia, pada akhirnya akan selalu kembali kepada Allah sebagai pusat segalanya.
Pernahkah memperhatikan betapa rumitnya anyaman janur pembungkus ketupat? Kerumitan tersebut menyimbolkan kompleksitas kesalahan yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya—saling silang, tumpang tindih, dan sulit diurai.
Di dalam anyaman yang rumit itu, tersimpan butiran beras yang putih bersih. Warna putih ini melambangkan kesucian yang kembali setelah manusia saling memaafkan. Meski kesalahan pernah dilakukan, pintu maaf selalu terbuka untuk mengembalikan hubungan ke titik yang murni.
Isi ketupat berupa beras—makanan pokok masyarakat Indonesia—juga menjadi simbol harapan akan kemakmuran pasca-Idulfitri. Setelah sebulan penuh berpuasa dan menyucikan diri, masyarakat berharap kehidupan ke depan dipenuhi berkah dan kecukupan.
Tradisi ketupat di Indonesia kerap dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang dikenal piawai menyebarkan Islam melalui pendekatan kultural. Menurut ajaran yang dinisbatkan kepadanya, melalui ketupat manusia diajak untuk kembali kepada fitrah—melalui pengakuan atas kesalahan, pemberian pengampunan, dan semangat kebersamaan.
Dengan perspektif ini, ketupat bukan sekadar kuliner perayaan, melainkan media refleksi spiritual. Setiap suapan ketupat adalah pengingat bahwa manusia perlu terus memperbaiki diri dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi seperti Lebaran Ketupat di Bolaang Mongondow menjadi semakin berharga. Perayaan ini bukan hanya tentang makanan atau bahkan silaturahmi semata—ia adalah manifestasi dari nilai-nilai yang mulai langka: keramahan tanpa pamrih, kebersamaan lintas status sosial, dan keterbukaan kepada siapa pun tanpa memandang asal-usul.
Setiap tahun, ketika tenda-tenda didirikan dan asap dari dapur-dapur mengepul, masyarakat Bolaang Mongondow sesungguhnya sedang menjaga nyala api warisan leluhur. Mereka membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan praktik hidup yang tetap relevan di zaman sekarang.
Dalam tawa yang dibagi bersama, dalam ketupat yang disantap bersama, dan dalam hati yang saling terbuka untuk memaafkan—di situlah akar budaya dan kekuatan sosial masyarakat Bolaang Mongondow tumbuh dan berkembang. Tradisi Lebaran Ketupat adalah bukti nyata bahwa di Indonesia, keramahan bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Social Footer