![]() |
| Kabupaten Banyuwangi menyiapkan tiga tradisi budaya unggulan selama libur Lebaran: Barong Ider Bumi, Seblang Olehsari, dan Puter Kayun. / Foto: Diskominfo Banyuwangi |
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa momentum libur Lebaran tidak hanya soal silaturahmi, tetapi juga peluang besar bagi daerahnya untuk memperkenalkan kekayaan tradisi kepada dunia.
"Libur Lebaran menjadi momentum penggerak perekonomian. Selain bersilaturahmi, pemudik juga ingin berwisata bersama keluarga. Banyuwangi menyiapkan atraksi seni budaya yang bisa dinikmati," ujarnya.
Tradisi pertama yang menanti wisatawan adalah Barong Ider Bumi, yang digelar pada 2 Syawal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Bagi masyarakat Suku Osing, ritual ini bukan sekadar pertunjukan — melainkan prosesi bersih desa dan tolak bala yang telah diwariskan turun-temurun.
Dalam prosesi ini, warga mengarak barong — figur mitologis berbentuk makhluk bertaring yang dipercaya memiliki kekuatan pelindung — berkeliling kampung. Suasana sakral berpadu dengan gegap gempita warga yang turut mengiringi. Puncak acara ditandai dengan selamatan dan santap bersama Pecel Pitik, kuliner khas Banyuwangi berupa ayam kampung dengan sambal kelapa parut yang sulit ditemukan di tempat lain.
Desa Kemiren sendiri telah lama dikenal sebagai desa adat Suku Osing yang menjadi destinasi wisata budaya. Bagi wisatawan yang datang pada hari kedua Lebaran, Barong Ider Bumi menawarkan pengalaman imersif untuk memahami bagaimana masyarakat Banyuwangi memaknai pergantian tahun baru Islam melalui kacamata tradisi lokal.
Tradisi kedua barangkali menjadi yang paling misterius dan memikat. Seblang Olehsari berlangsung selama tujuh hari penuh, dari 4 hingga 10 Syawal, di Desa Olehsari.
Yang membuat ritual ini berbeda dari pertunjukan tari pada umumnya adalah sifatnya yang sangat sakral. Penari Seblang bukan dipilih melalui audisi atau pelatihan konvensional. Ia adalah perempuan yang diyakini memiliki garis keturunan khusus dan terpilih melalui mekanisme spiritual masyarakat setempat. Selama tujuh hari berturut-turut, sang penari akan menari dalam kondisi trance — keadaan setengah sadar — sebagai bagian dari upacara tolak bala bagi seluruh warga desa.
Bagi para antropolog dan peneliti budaya, Seblang Olehsari merupakan salah satu ritual trance tertua yang masih hidup di Jawa. Bagi wisatawan, ini adalah kesempatan langka menyaksikan warisan budaya yang nyaris tidak memiliki padanan di tempat lain di Indonesia.
Rangkaian atraksi budaya Lebaran di Banyuwangi ditutup oleh Puter Kayun pada 10 Syawal di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri. Berbeda dari dua tradisi sebelumnya yang berpusat di satu lokasi, Puter Kayun adalah prosesi napak tilas — perjalanan kolektif warga yang bergerak dalam iring-iringan menuju Pantai Watu Dodol.
Tradisi ini merupakan ekspresi rasa syukur kepada leluhur. Warga berjalan bersama, membawa sesaji dan simbol-simbol adat, menyusuri rute yang dipercaya pernah dilalui oleh nenek moyang mereka. Pantai Watu Dodol, dengan pemandangan batu karang ikoniknya yang menghadap Selat Bali, menjadi titik akhir sekaligus klimaks spiritual dari seluruh prosesi.
Bagi wisatawan yang menyukai perpaduan budaya dan alam, Puter Kayun menawarkan pengalaman ganda: menyelami tradisi masyarakat lokal sekaligus menikmati keindahan pesisir timur Jawa.
Selain tiga tradisi budaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menyiapkan agenda khusus bertajuk Diaspora Banyuwangi pada 23 Maret. Acara ini dirancang sebagai ajang silaturahmi bagi warga perantau asal Banyuwangi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia maupun di luar negeri.
Bupati Ipuk menjelaskan bahwa acara ini memiliki misi yang melampaui sekadar kumpul-kumpul nostalgia.
"Ini ajang untuk memperkuat silaturahmi warga Banyuwangi dari berbagai kota di Indonesia dan belahan dunia. Kami ajak kumpul, saling lepas kangen, dan kami berharap bisa saling sharing dan tukar ide bagaimana untuk bisa tandang bareng membangun Banyuwangi," ujarnya.
Gagasan "tandang bareng" — istilah lokal yang bermakna bergerak bersama — mencerminkan pendekatan Banyuwangi dalam menggandeng diasporanya sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar tamu musiman, Kamis (19/3/2026).
Strategi Banyuwangi menjadikan tradisi budaya sebagai daya tarik wisata Lebaran bukanlah hal baru, tetapi tetap relevan. Di tengah persaingan destinasi wisata domestik yang semakin ketat, kabupaten ini memilih jalur yang sulit ditiru oleh daerah lain: autentisitas budaya.
Barong Ider Bumi, Seblang Olehsari, dan Puter Kayun bukan pertunjukan yang diciptakan untuk turis. Ketiganya adalah ritual hidup yang telah berlangsung jauh sebelum konsep pariwisata budaya dikenal. Justru di situlah letak kekuatannya — wisatawan tidak menyaksikan rekonstruksi, melainkan ikut hadir dalam momen yang benar-benar bermakna bagi masyarakat setempat.
Dengan jadwal yang tersebar sepanjang masa libur Lebaran — dari 2 Syawal hingga 10 Syawal — wisatawan memiliki fleksibilitas untuk merencanakan kunjungan sesuai preferensi mereka. Ditambah acara Diaspora Banyuwangi pada 23 Maret, rangkaian kegiatan ini membentuk kalender budaya yang cukup padat untuk menjadikan Banyuwangi lebih dari sekadar titik singgah mudik.
Bagi mereka yang selama ini mengenal Banyuwangi hanya dari Kawah Ijen atau Pantai Pulau Merah, libur Lebaran kali ini mungkin menjadi momen yang tepat untuk menemukan sisi lain dari kabupaten ini — sisi yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih manusiawi. Tradisi-tradisi Suku Osing ini mengingatkan bahwa di balik gemerlapnya industri pariwisata modern, ada warisan budaya yang tetap bernapas dan menunggu untuk diceritakan.

Social Footer