| Marpangir, tradisi mandi rempah-rempah khas Tapanuli Selatan, menjadi simbol penyucian diri menyambut Ramadan. Meski tergeser modernitas, tradisi ini tetap relevan dalam budaya lokal. / Foto: Ist. |
Menurut Akademisi Sumatera Utara, Remaja Putra Barus, tradisi mandi pangir telah ada jauh sebelum agama-agama formal masuk ke Indonesia. Hingga kini, mayoritas warga di Tapanuli Selatan terus melestarikan ritual ini sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.
“Pada dasarnya, tradisi ini bertujuan untuk penyucian diri. Jika kita melihat suku-suku di Indonesia, mereka masih sangat terikat dengan nilai-nilai warisan leluhur,” jelas Remaja Putra Barus, Sabtu (21/2/2026).
Ia menambahkan, dalam konteks modern, marpangir bagi umat Muslim di suku Mandailing dan Angkola dijalankan dengan cara yang lebih sederhana, tanpa melibatkan unsur mantra seperti yang dilakukan pada masa lampau.
Secara teknis, mandi pangir dilakukan dengan menggunakan campuran rempah-rempah seperti bunga mawar, kenanga, daun pandan, sereh, dan jeruk purut. Kombinasi bahan ini menghasilkan aroma harum yang menenangkan sekaligus menyegarkan tubuh.
Menjelang Ramadan, pasar-pasar tradisional di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan, biasanya dipenuhi oleh pedagang rempah pangir. Harga rempah ini cukup terjangkau, yakni Rp2.000 per ikat atau Rp5.000 untuk tiga ikat.
Neneng, seorang pedagang sayur di Pasar Sukaramai, Medan, memanfaatkan momen ini untuk menjual rempah pangir. Dalam sehari, ia mampu menjual hingga 150 ikat. “Kalau lagi ramai, untungnya lumayan, Kak. Biasanya sore hari harga turun jadi Rp1.000 per ikat karena tradisinya hanya berlangsung dua sampai tiga hari sebelum puasa,” ujar Neneng.
Bagi warga seperti Titin, seorang mahasiswi di Medan, membeli rempah pangir adalah rutinitas tahunan. "Sudah biasa, Kak. Tiap tahun rebus pangir ini untuk keramas pas mandi sore nanti," katanya sembari memilih rempah segar di pasar.
Di tengah arus modernisasi, tradisi mandi pangir mulai mengalami pergeseran. Sebagian masyarakat, terutama generasi muda, mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap kurang relevan atau tidak memberikan manfaat signifikan secara substansial. Meski secara medis, uap dari rebusan rempah ini dikenal memiliki efek aromaterapi yang dapat membantu merelaksasi otot dan menyegarkan sistem saraf.
Ketua Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (Forkala), Sori Muda Harahap, menilai bahwa kemajuan teknologi turut berkontribusi pada memudarnya tradisi ini.
“Kesibukan dengan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp cukup memengaruhi masyarakat. Tradisi marpangir perlahan mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Ustadz Henri, seorang tokoh agama setempat, juga mencatat bahwa tradisi ini terkadang disalahgunakan, seperti mandi bersama di sungai tanpa memperhatikan norma agama. Ia berharap masyarakat lebih memanfaatkan energi menyambut Ramadan untuk meningkatkan amal ibadah.
Meski tradisi mandi pangir mulai tergeser, semangat menyambut Ramadan tetap hidup dalam bentuk yang berbeda. Bagi sebagian keluarga, acara penyucian diri kini tidak lagi melibatkan rempah-rempah, tetapi tetap diisi dengan kebersamaan.
Ranto Harahap, warga Angkola Timur, mengungkapkan bahwa keluarganya tetap mempertahankan tradisi berkumpul meski tidak lagi melakukan marpangir. "Kami tetap ada acara menyambut Ramadan. Hanya saja, sekarang tidak pakai rempah pangir, tapi cukup mandi biasa pakai sampo sambil makan-makan di pinggir sungai," ungkapnya.
Tradisi mandi pangir di Tapanuli Selatan mencerminkan upaya masyarakat untuk menjaga warisan leluhur sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meski beberapa elemen tradisional mulai ditinggalkan, semangat kebersamaan dan penyucian diri menjelang Ramadan tetap menjadi inti dari tradisi ini.
Dengan perpaduan antara nilai-nilai lama dan pendekatan modern, tradisi marpangir tetap menjadi cerminan budaya lokal yang kaya dan relevan untuk terus dihormati, terutama sebagai bagian dari persiapan spiritual menyambut bulan suci Ramadan.
Social Footer