Breaking News

Tradisi Koko’o Gorontalo: Meriahkan Ramadan dengan Ketuk Sahur

Tradisi Koko’o Gorontalo Sambut Ramadan
 Tradisi Koko’o Gorontalo, ketuk sahur khas Ramadan, melibatkan ribuan warga. Dari sejarah konflik menjadi simbol perdamaian, tradisi ini terus dilestarikan lintas generasi.
Sambangdesa.com / Gorontalo – Masyarakat Gorontalo kembali menyambut Ramadan dengan tradisi unik bernama Koko’o atau ketuk sahur. Tradisi ini melibatkan aksi membangunkan warga untuk makan sahur melalui tabuhan kentungan bambu. Tahun ini, perayaan Koko’o digelar lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menarik ribuan warga yang antusias untuk berpartisipasi pada Kamis (19/2).

Ketua Koko’o Gorontalo, Fiqram Idrus, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga cara untuk melibatkan generasi muda dalam melestarikan tradisi lokal.

"Setiap tahun kami memperbarui konsep Koko’o, mulai dari desain panggung hingga elemen tambahan seperti iring-iringan truk hias dengan sistem suara dan permainan lampu," ujar Fiqram.

Ia juga mencatat lonjakan jumlah peserta tahun ini. "Peserta membludak, sekitar 2.000 orang hadir di titik awal kegiatan," tambahnya. Selain kentungan kayu yang menjadi ciri khas, keberadaan anak-anak hingga orang dewasa dalam kegiatan Koko’o menjadi bukti bahwa tradisi ini terus diwariskan lintas generasi.

Perayaan Koko’o tahun ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Gorontalo dan secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel. Kegiatan ini bahkan menarik perhatian warga dari luar daerah, salah satunya Sri Desni Anjani Laia, pendatang asal Nias, Sumatera Utara.

"Pertama kali saya melihat Koko’o ini, saya sangat terkejut sekaligus kagum karena banyak masyarakat yang antusias menyaksikan dan ikut berpartisipasi," ungkap Desni. Meski terkesan, ia berharap pelaksanaan tradisi ini dapat lebih tertib, khususnya terkait keamanan pejalan kaki dan pengendara motor yang melintas.

Tradisi Koko’o ternyata memiliki latar belakang sejarah yang penuh makna. Dahulu, tradisi ini bermula dari konflik antara dua wilayah, yakni Kelurahan Talumolo dan Kampung Bugis, yang sering terlibat tawuran di malam hari selama Ramadan. Namun, perselisihan ini akhirnya berujung pada perdamaian yang kemudian dirayakan melalui kegiatan ketuk sahur bersama.

Aan Karim, salah satu tokoh masyarakat, mengungkapkan bahwa transformasi ini mencerminkan semangat persahabatan dan kebersamaan. "Konflik yang berkepanjangan itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah kegiatan besar selama Ramadan, dan kini menjadi agenda tahunan yang diikuti oleh ratusan orang," jelas Aan.

Kegiatan Koko’o pun berkembang menjadi rutinitas selama 30 hari penuh di bulan Ramadan, dengan puncak kemeriahan terjadi di awal dan akhir bulan. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga simbol persatuan masyarakat Gorontalo.

Selain menjadi hiburan, tradisi Koko’o juga memiliki dampak positif dalam mempererat hubungan antarwarga. "Minimal, kebersamaan kita dalam kegiatan ketuk sahur ini bisa menjalin silaturahmi sesama muslim di Kota Gorontalo," kata Aan.

Fiqram Idrus berharap tradisi ini terus dilestarikan oleh generasi muda agar budaya lokal Gorontalo tetap hidup di tengah modernisasi. Dengan semangat kebersamaan yang diusung, Koko’o tidak hanya menjadi tradisi budaya tetapi juga warisan berharga yang menguatkan identitas masyarakat Gorontalo.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close