![]() |
| Insiden tragis di NTT yang melibatkan siswa SD memunculkan sorotan nasional. Presiden dan Gubernur NTT menyerukan langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa. / Foto: Dokumentasi Polres Ngada |
Surat tersebut, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berbunyi: "Surat buat Mama ** Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari saya. Selamat tinggal Mama."
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibunya, seorang single parent, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak. Keluarga ini termasuk dalam kategori miskin ekstrem (desil-1), dengan akses terbatas pada bantuan sosial akibat kendala administrasi.
Respons Presiden Prabowo dan Pemerintah Pusat
Presiden RI, Prabowo Subianto, langsung memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Beliau memerintahkan jajarannya untuk segera berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait guna memastikan langkah penanganan cepat dan komprehensif.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, yang juga menjadi juru bicara pemerintah dalam kasus ini, menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa insiden ini adalah tragedi yang seharusnya tidak pernah terjadi di Indonesia. Pemerintah juga berkomitmen untuk mencari solusi guna mencegah tragedi serupa di masa mendatang.
Dalam langkah koordinatif, Mensesneg telah berkomunikasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Fokus utama adalah memberikan perhatian kepada keluarga korban, termasuk memastikan akses mereka terhadap bantuan sosial yang seharusnya mereka dapatkan.
Murkanya Gubernur NTT: "Kegagalan Kita Semua"
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, secara terbuka menyatakan kemarahan dan rasa malu atas tragedi ini. Dalam sebuah acara publik di Kupang, Rabu (4/2/2026), ia mengecam keras lambannya respons pemerintah daerah Kabupaten Ngada.
"Kita semua terusik. Ada seorang anak di NTT yang meninggal hanya karena tidak bisa beli buku dan bolpoin. Ini adalah kegagalan kita semua—pemerintah provinsi, Pemkab Ngada, bahkan unsur agama dan budaya," tegasnya dengan nada penuh emosi.
Gubernur Melki juga menyebut kematian korban sebagai cerminan kemiskinan struktural yang belum tertangani secara sistematis. Ia menyoroti bagaimana ketidakadilan sosial dan lemahnya perhatian terhadap pendidikan dasar telah merenggut harapan seorang anak.
Lebih lanjut, Gubernur Melki mengungkapkan kekecewaannya terhadap respons lamban dari pemerintah daerah setempat. Ia bahkan memerintahkan timnya untuk turun langsung ke lapangan setelah tidak mendapatkan respons dari pimpinan Kabupaten Ngada. Hingga malam hari pascakejadian, belum ada perwakilan resmi pemerintah kabupaten yang hadir di rumah duka.
"Ini gila namanya. Dalam situasi seperti ini, kita gagal sebagai pemerintah," ujarnya tegas.
Pentingnya Edukasi Mental dan Kepedulian Sosial
Dalam upaya mencegah terulangnya tragedi serupa, pemerintah menekankan pentingnya peningkatan kepedulian sosial di semua tingkatan masyarakat. Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut bahwa kepedulian harus dimulai dari keluarga, komunitas, dan sekolah sebagai bagian dari solusi kolektif.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, telah diajak berkoordinasi untuk merancang program edukasi kesehatan mental bagi siswa. Pemerintah berharap agar anak-anak dapat merasa aman untuk berbicara tentang tekanan yang mereka alami, baik kepada keluarga maupun guru di sekolah.
Sebagai tanggapan terhadap tragedi ini, Gubernur Melki berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program bantuan sosial dan layanan pendidikan di provinsi NTT. Ia juga meminta agar semua kepala daerah lebih responsif terhadap kondisi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.
Gubernur Melki menegaskan bahwa peristiwa di Ngada harus menjadi yang pertama dan terakhir di NTT. Ia juga meminta agar program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dioptimalkan untuk menjangkau keluarga miskin ekstrem.
"Pranata agama gagal, pranata sosial gagal, pemerintahan juga gagal. Jangan sampai ada lagi warga NTT yang mati karena miskin," tegasnya.
Pelajaran dari Tragedi Ngada
Tragedi yang dialami siswa SD di NTT ini menjadi pengingat pahit tentang pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan di masyarakat. Peran pemerintah, komunitas, dan lembaga pendidikan harus diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan mencegah tekanan mental pada anak-anak.
Kasus ini juga menjadi sorotan nasional, menuntut langkah nyata dari semua pihak untuk memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan harapan hanya karena kemiskinan. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat belajar dari tragedi ini, memperkuat sistem perlindungan sosial, dan memastikan bahwa setiap anak memiliki akses terhadap pendidikan yang layak dan kehidupan yang lebih baik.

Social Footer