Breaking News

BUMDes Subulussalam Panen Semangka, Raup Untung 50 Persen

Semangka Tanpa Biji BUMDes Kota Subulussalam Raih Keuntungan Puluhan Juta
BUMDes Sejahtera Kampong Subulussalam Timur berhasil mengembangkan budidaya semangka tanpa biji seluas 1 hektare dengan keuntungan mencapai 50 persen pada panen perdana. Pelajari strategi ketahanan pangan yang menguntungkan ini. / Foto : Ist.
Sambangdesa.com / Kota Subulussalam Kampong Subulussalam Timur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, mencatatkan keberhasilan melalui program budidaya semangka tanpa biji yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera. Dengan memanfaatkan lahan seluas satu hektare, panen perdana berhasil menghasilkan sekitar 10 ton semangka dan memberikan keuntungan signifikan bagi desa.

Budidaya semangka ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang didanai oleh alokasi dana desa tahun 2025. Kepala Kampong Subulussalam Timur, Wahda, SE, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus# Semangka Tanpa Biji Hasilkan Keuntungan 50 Persen

Sebuah inisiatif pertanian inovatif sedang mengubah lanskap ekonomi pedesaan di Kota Subulussalam. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera Kampong Subulussalam Timur telah membuktikan bahwa budidaya semangka tanpa biji dapat menjadi alternatif menguntungkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal sambil memperkuat ketahanan pangan.

Pada panen perdana yang baru saja dilaksanakan, program pertanian ini telah mencapai hasil yang mengesankan—menghasilkan keuntungan bersih hingga 50 persen dalam waktu singkat. Pencapaian ini menunjukkan potensi nyata dari diversifikasi pertanian modern di tingkat desa.

BUMDes Sejahtera beroperasi di Kampong Subulussalam Timur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, di bawah kepemimpinan Kepala Kampong Wahda, SE. Lembaga ini bekerja dengan dukungan penuh dari pemerintah lokal dan memanfaatkan alokasi dana desa tahun 2025 untuk mendorong inisiatif ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Program budidaya semangka tanpa biji merepresentasikan pendekatan modern terhadap pertanian tradisional. Semangka tanpa biji dipilih karena beberapa alasan strategis: Nilai jual lebih tinggi di pasaran lokal dan regional, Permintaan konsumen yang terus meningkat untuk produk pertanian premium, dan Potensi pasar yang luas dengan daya saing kompetitif.

Kesuksesan program ini tidak terlepas dari dukungan sistematis pemerintah desa. Kepala Kampong Wahda menjelaskan bahwa inisiatif ini didukung sepenuhnya oleh anggaran dana desa tahun 2025 yang dialokasikan khusus untuk program ketahanan pangan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen pemerintah lokal dalam mengintegrasikan pembangunan ekonomi dengan pencapaian target ketahanan pangan nasional.

"Program ini dirancang untuk mencapai dua tujuan utama: mendorong kemandirian pangan masyarakat dan secara bersamaan meningkatkan perekonomian lokal," kata Wahda, seperti dikutip pada Kamis (5/2/2026).

Keberhasilan panen perdana ini membuka peluang lebih luas bagi komunitas Kampong Subulussalam Timur: 

1. Penciptaan Lapangan Kerja: Budidaya semangka memerlukan tenaga kerja terampil untuk perawatan tanaman, panen, dan distribusi, menciptakan peluang kerja bagi masyarakat lokal.
2. Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga: Dengan margin keuntungan 50 persen, petani dapat meningkatkan pendapatan keluarga mereka secara signifikan dan berkelanjutan.
3. Penguatan Ketahanan Pangan: Program ini berkontribusi pada diversifikasi sumber pangan lokal, mengurangi ketergantungan pada impor, dan memperkuat ketahanan pangan regional.
4. Model Bisnis yang Dapat Direplikasi: Kesuksesan BUMDes Sejahtera dapat menjadi referensi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan program pertanian inovatif serupa.

Meskipun hasil panen perdana sangat menggembirakan, beberapa tantangan tetap perlu diperhatikan untuk keberlanjutan program:Stabilitas harga pasar yang dapat berfluktuasi seiring waktu, Manajemen risiko pertanian terhadap hama dan perubahan iklim, Pemasaran dan distribusi yang efisien untuk mencapai pasar yang lebih luas, dan Pelatihan berkelanjutan bagi petani lokal tentang teknik budidaya modern.

Namun, dengan infrastruktur BUMDes yang sudah terbentuk dan dukungan pemerintah yang konsisten, tantangan ini dapat diatasi melalui strategi manajemen yang tepat dan kolaborasi lintas sektor.

Kisah sukses budidaya semangka tanpa biji di Kampong Subulussalam Timur menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana inovasi pertanian, dukungan pemerintah, dan semangat kewirausahaan lokal dapat bersinergi menciptakan perubahan ekonomi positif. Program ini membuktikan bahwa ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi desa bukan hanya aspirasi, tetapi dapat menjadi realitas yang terukur.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close