Sambangdesa.com / Korea Selatan - Di mana dua sungai besar bertemu, kehidupan bermula. Bagi 25 juta penduduk metropolitan Seoul, pertemuan Sungai Bukhangang dan Namhangang bukan sekadar fenomena geografis, melainkan nadi kehidupan yang dijaga dengan sepenuh hati oleh sebuah desa bernama Yangsuri.
Terletak di titik temu aliran air yang berasal dari Gunung Geumgang dan Provinsi Gangwon, Desa Yangsuri di Korea Selatan menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Desa ini adalah bukti hidup bagaimana komunitas lokal dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan alam, menjaga sumber air minum jutaan orang sembari melestarikan warisan budaya yang tak ternilai.
Lanskap feri tradisional di Sungai Han kuno masih terjaga di sini, menciptakan suasana puitis yang jarang ditemukan di era modern. Namun, di balik keindahannya, terdapat komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan.
Taman Air Semiwon: Memurnikan dengan Keindahan
Identitas Yangsuri kini lekat dengan julukan "Desa Budaya Taman". Hal ini bukan klaim semata, melainkan hasil kerja keras warga setempat yang menciptakan Taman Air atau dikenal sebagai Semiwon.
Uniknya, taman ini tidak dibangun hanya untuk estetika. Semiwon adalah sistem filtrasi alami raksasa. Warga menanam ribuan bunga teratai yang berfungsi memurnikan air sungai secara biologis. Keindahan bunga teratai yang mekar kini menjadi simbol komitmen desa: menjaga kebersihan air melalui cara-cara alami.
Kawasan Dumulmeori, titik pertemuan dua sungai yang bersejarah, kini sedang diintegrasikan dengan taman teratai tersebut. Target jangka panjangnya ambisius namun mulia: menjadikan kawasan ini sebagai Taman Nasional. Momentum ini akan memuncak pada tahun 2026, saat Yangpyeong didapuk menjadi tuan rumah Gyeonggi Garden Expo, mempertegas posisi Yangsuri sebagai pemimpin pariwisata ekokultural di Asia.
Evolusi Pertanian: Dari Organik Menuju Penyembuhan
Kabupaten Yangpyeong, rumah bagi Desa Yangsuri, telah lama dikenal sebagai tempat kelahiran pertanian ramah lingkungan di Korea Selatan. Sejak tahun 1998, para petani di sini telah meninggalkan pestisida demi melindungi sumber air vital bagi ibu kota.
Kini, inovasi pertanian mereka melangkah lebih jauh dengan konsep "Pertanian Penyembuhan" (Healing Agriculture). Ini adalah pendekatan progresif yang menghubungkan aktivitas bercocok tanam dengan kesehatan fisik dan emosional manusia.
Pemerintah setempat tengah menyusun rencana induk untuk mendukung model ini. Di Yangsuri, bertani bukan lagi sekadar soal produksi pangan, melainkan metode terapi untuk mengurangi stres dan menemukan keseimbangan hidup. Inisiatif ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru, menarik wisatawan yang mencari ketenangan batin melalui interaksi langsung dengan alam.
Edukasi Alam untuk Masa Depan
Untuk memastikan warisan ini bertahan, Desa Yangsuri telah meluncurkan rencana induk ekowisata yang komprehensif. Di lahan seluas hampir 50.000 meter persegi, pengunjung diajak menyelami pusat pengalaman ekologis.
Di sini, wisatawan dari berbagai usia dapat mengamati langsung habitat serangga, reptil, hingga tanaman air liar. Program pertanian praktis juga dibuka untuk umum, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan langsung proses menanam pangan secara berkelanjutan.
Pendekatan terintegrasi ini mengubah desa menjadi ruang kelas raksasa yang hidup. Yangsuri tidak hanya menjaga nilai ekologis dan budaya untuk hari ini, tetapi juga mewariskannya kepada generasi mendatang melalui pariwisata yang bertanggung jawab.
Yangsuri mengajarkan kita bahwa menjaga alam bukan berarti menghentikan kemajuan, melainkan menyelaraskan langkah manusia dengan ritme bumi. Apakah Anda tertarik merasakan ketenangan di tengah hamparan bunga teratai dan pertanian penyembuhan ini?
Social Footer