Breaking News

Ulat Lonomia: Ancaman Tersembunyi di Balik Hutan

Sambangdesa.com – Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Amerika Selatan, tersembunyi ancaman yang tak terduga. Di antara dedaunan lebat, seekor larva ngengat bernama Lonomia obliqua menjadi perhatian dunia kesehatan karena kemampuannya menimbulkan krisis medis hanya melalui sentuhan kulit. Dikenal luas di Brasil sebagai "Ulat Pembunuh", serangga ini dinobatkan sebagai salah satu hewan paling beracun bagi manusia.

Lonomia obliqua bukanlah predator aktif seperti ular atau kalajengking, melainkan makhluk yang mengandalkan mekanisme pertahanan pasif. Ribuan duri halus yang menyelubungi tubuhnya berfungsi sebagai senjata utama. Duri-duri ini mudah patah ketika bersentuhan dengan kulit, menyuntikkan racun berbahaya langsung ke dalam tubuh.

Kemampuan kamuflasenya pun luar biasa. Warna tubuhnya yang coklat kehijauan menyatu sempurna dengan batang pohon, membuatnya sulit dideteksi oleh mata manusia. Kondisi ini kerap memicu insiden tidak disengaja, di mana seseorang bersandar pada pohon yang ternyata menjadi rumah koloni ulat beracun tersebut.

Bahaya utama dari kontak dengan Lonomia obliqua bukan sekadar luka akibat tusukan duri, melainkan efek racun yang bekerja pada tingkat molekuler. Penelitian yang dilakukan oleh Instituto Butantan di São Paulo, Brasil, telah mengungkapkan bahwa racun ulat ini mengandung dua protein utama—Lopap dan Losac—yang memicu gangguan sistem pembekuan darah.

Kedua protein ini memaksa tubuh manusia memproduksi trombin secara berlebihan, menyebabkan terjadinya koagulopati konsumtif. Akibatnya, seluruh cadangan protein pembeku darah (fibrinogen) terkuras habis dalam waktu singkat, sehingga darah kehilangan kemampuan untuk membeku. Dalam kondisi ini, korban berisiko mengalami pendarahan spontan yang dapat berujung fatal.

Pada tahap awal, gejala yang muncul umumnya berupa sensasi terbakar di area kontak, sakit kepala, dan mual—sering kali disalahartikan sebagai reaksi alergi biasa. Namun, seiring waktu, korban mulai mengalami sindrom hemoragik, seperti pendarahan spontan di gusi, hidung, hingga saluran pencernaan, serta memar-memar besar tanpa sebab jelas. Komplikasi paling serius adalah pendarahan intrakranial, yang dapat menyebabkan stroke hemoragik dan kematian.

Lonjakan kasus akibat Lonomia obliqua ternyata berkaitan erat dengan perubahan lingkungan. Studi dalam Journal of Venomous Animals and Toxins including Tropical Diseases menunjukkan bahwa deforestasi dan hilangnya predator alami telah memaksa ulat ini bermigrasi dari hutan liar ke kebun-kebun dan area pemukiman. Kini, mereka sering ditemukan berkoloni di pohon-pohon buah seperti alpukat, persik, dan mangga, sehingga risiko kontak dengan manusia semakin meningkat, khususnya bagi petani dan warga sekitar.

Meningkatnya interaksi manusia dengan Lonomia obliqua menuntut kewaspadaan ekstra, terutama di wilayah berisiko. Identifikasi pohon-pohon yang menjadi habitat ulat serta edukasi tentang bahaya kontak kulit dengan serangga ini sangat penting untuk mencegah insiden serius.

Kehadiran Lonomia obliqua sebagai "Ulat Pembunuh" mengingatkan kita bahwa keindahan hutan tropis menyimpan potensi bahaya tersembunyi. Pengetahuan mengenai cara kerja racun dan pola migrasi ulat ini sangat penting dalam upaya penangannanya.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close