Breaking News

Putu Bumbung: Kelezatan Tradisi Solo

Sambangdesa.com - Aroma manis bercampur gurih, berpadu dengan suara khas dari gerobak sederhana, menandai kehadiran putu bumbung di sudut-sudut kota Solo. Jajanan tradisional ini bukan sekadar panganan, melainkan bagian dari warisan budaya yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.

Apa Itu Putu Bumbung?
Putu bumbung adalah salah satu jajanan tradisional khas Solo, Jawa Tengah, yang menghadirkan rasa otentik Indonesia. Meski serupa dengan kue putu di berbagai daerah lain, putu bumbung memiliki keunikan pada proses pembuatan dan penyajiannya.

Nama “putu bumbung” diambil dari kata “bumbung”, yaitu bilah bambu yang digunakan sebagai cetakan adonan. Resep dasarnya sederhana: tepung beras yang diisi gula merah, lalu dikukus hingga matang, kemudian disajikan dengan taburan parutan kelapa.

Proses Pembuatan yang Sederhana Namun Ikonik
Pembuatan putu bumbung masih mengandalkan peralatan tradisional. Selain bumbung bambu, alat utama yang digunakan adalah kompor dan kaleng bekas minyak goreng yang telah dimodifikasi menjadi kukusan.

Adonan tepung beras dicampur parutan kelapa lalu dipadatkan ke dalam bumbung. Setelah setengah penuh, gula merah disisipkan di tengah, kemudian adonan ditambah hingga penuh. Selanjutnya, bumbung-bumbung berisi adonan ini dikukus di atas kaleng berisi air panas. Proses pengukusan menghasilkan suara khas “tuut... tuut... tuut...” yang menjadi penanda dan pemanggil para penikmat kue putu bumbung. Tradisi Malam di Solo

Putu bumbung umumnya dijajakan pada malam hari. Penjualnya, yang kebanyakan merupakan pria berusia lanjut, berkeliling dengan sepeda sambil membawa peralatan kukus bergerak. Suara kukusan yang terdengar dari kejauhan menjadi ciri khas yang mudah dikenali masyarakat Solo—sebuah seruan nostalgia yang mengundang pembeli, terutama di lingkungan pemukiman.

Kini, penjual putu bumbung semakin jarang dijumpai. Keberadaan mereka hanya bisa ditemukan di waktu dan tempat tertentu, menambah kesan eksklusif pada jajanan ini. Cita Rasa yang Membekas

Kelezatan putu bumbung terletak pada perpaduan rasa manis gula merah dan gurih kelapa parut. Tekstur lembut tepung beras berpadu dengan kelapa memberikan sensasi unik yang cocok dinikmati bersama teh atau kopi hangat.

Bagi masyarakat Solo, putu bumbung bukan hanya kudapan, melainkan bagian dari tradisi nongkrong santai, obrolan hangat di malam hari, dan kenangan masa kecil yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Menjaga Warisan, Menghargai Tradisi
Putu bumbung menjadi salah satu simbol kekayaan kuliner Indonesia, khususnya di Solo. Keberadaannya yang kini kian langka menuntut upaya pelestarian agar generasi mendatang tetap dapat menikmati keunikan jajanan tradisional ini. Mendukung para penjual putu bumbung tidak hanya berarti menikmati panganan lezat, tetapi juga menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal. Kesimpulan

Putu bumbung, dengan keunikan proses pembuatan dan kelezatan rasanya, merepresentasikan kekayaan kuliner dan tradisi masyarakat Solo. Di tengah perubahan zaman, kehadiran jajanan ini mengingatkan kita pentingnya menjaga dan menghargai warisan budaya. Pernahkah Anda menikmati putu bumbung di malam hari? Bagikan pengalaman Anda dan mari bersama lestarikan jajanan tradisional Indonesia.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close