Sambangdesa.com / Mojokerto – Di tengah kekhawatiran global mengenai dampak pemanasan global, sebuah inisiatif lokal dari kaki gunung di Jawa Timur membuktikan bahwa perubahan besar bermula dari langkah kecil. Desa Nogosari, yang terletak di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, baru saja menorehkan prestasi nasional atas dedikasi warganya dalam menjaga keseimbangan alam.
Kementerian Lingkungan Hidup menganugerahkan penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Kategori Utama kepada desa ini. Predikat prestisius tersebut diserahkan dalam ajang Jatim Environment Community Award Tahun 2025 di Surabaya, pada 24 Desember lalu, sebagai pengakuan atas konsistensi masyarakat dalam memitigasi perubahan iklim.
Konsistensi Mengubah Kebiasaan Lama
Penghargaan ini bukanlah hasil kerja semalam. Di balik trofi yang diterima, terdapat cerita panjang tentang perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Kepala Desa Nogosari, Yono, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan desanya terletak pada konsistensi melakukan hal-hal sederhana namun berdampak besar.
Salah satu perubahan paling signifikan terjadi di sektor pertanian, yang menjadi mata pencaharian utama warga. Tradisi lama yang merugikan lingkungan mulai ditinggalkan.
“Dari unsur pertanian contohnya, kalau kita panen dulu jeraminya dibakar, sekarang tidak boleh. Jadi, mulai dari hal sekecil itu,” ujar Yono, menggambarkan bagaimana kesadaran kolektif mulai terbangun.
Inovasi Pipanisasi: Menghijaukan Lahan Kering
Selain mengubah metode pasca-panen, Desa Nogosari juga melakukan terobosan infrastruktur untuk mendukung ketahanan pangan dan lingkungan. Sejak tahun 2022, program pipanisasi dijalankan untuk mengatasi masalah irigasi di lahan-lahan kritis.
Dampaknya sangat nyata. Sekitar 10 hektare lahan yang sebelumnya kering dan tidak produktif, kini telah berubah wajah.
“Hari ini lahan tersebut jadi hijau dan bisa ditanami sepanjang tahun,” tambah Yono. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan ekonomi petani lokal, tetapi juga menambah tutupan hijau yang vital bagi penyerapan karbon.
Kesadaran Kolektif Menjaga Hutan
Upaya pelestarian lingkungan di Nogosari meluas hingga ke aspek sosial dan perlindungan hutan. Warga desa secara aktif terlibat dalam menjaga kebersihan lingkungan, membudidayakan tanaman, serta menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh lagi, terdapat komitmen tegas untuk melindungi kawasan hutan di sekitar desa dari penebangan liar. Yono menegaskan bahwa masyarakat Nogosari kini telah memiliki "kesadaran mental" yang kuat untuk hidup berdampingan dengan alam, bukan mengeksploitasinya.
Penghargaan Proklim Kategori Utama yang diraih Desa Nogosari menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat dapat menciptakan benteng pertahanan terhadap krisis iklim. Yono berharap, pencapaian ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah awal untuk kontribusi yang lebih luas.
”Harapannya ke depan, kita sebagai paru-paru dunia itu tidak hanya sebagai jargon, tapi betul-betul menjadi bagian dari pelestari lingkungan,” pungkasnya.
Kisah dari Nogosari ini mengajak kita merenung: jika sebuah desa di kaki gunung mampu mengubah kebiasaan demi bumi, langkah kecil apa yang sudah kita lakukan di lingkungan kita sendiri hari ini?
Social Footer