Sambangdesa.com - Pernyataan Anggota DPR RI Fraksi NASDEM, Viktor Laiskodat, yang menyebut laut melalui fitoplankton dan alga merupakan penyumbang utama oksigen dunia, sementara hutan bukan “paru-paru dunia” terbesar, memicu perdebatan luas di akhir Desember 2025. Pernyataan tersebut berkembang pesat di media sosial, memancing diskusi antara publik, pakar lingkungan, dan warganet.
Beberapa pengguna menilai argumen Viktor didukung data ilmiah—memang sekitar 70 persen oksigen dunia dihasilkan fitoplankton laut. Namun, mereka menilai narasi ini berisiko menyesatkan jika dijadikan pembenaran untuk mengabaikan perlindungan hutan. “Ekosistem darat dan laut tak bisa dipisahkan. Kerusakan hutan bisa memicu kerusakan laut juga,” tulis salah satu warganet, Senin (29/12/2025).
Ekosistem Saling Terhubung: Hutan dan Laut Bukan Pilihan
Pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa darat dan laut adalah satu sistem ekologis. Kerusakan hutan berdampak pada laut melalui peningkatan sedimentasi, kerusakan terumbu karang, ledakan alga beracun, dan kenaikan suhu perairan. Semua ini mengancam keseimbangan kehidupan manusia dan ekosistem global.
Para ahli menegaskan: Perlindungan lingkungan wajib dipandang utuh. Menjaga satu ekosistem sambil mengorbankan yang lain justru memperparah krisis iklim dan lingkungan secara keseluruhan.
Perspektif Ilmiah: Oksigen dari Laut dan Darat
Peneliti Ahli Utama BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menilai perdebatan soal sumber utama oksigen Bumi sering disederhanakan secara keliru. Ia menjelaskan, kontribusi oksigen perlu dilihat dalam dua skala waktu berbeda: tahunan dan jutaan tahun.
“Dalam skala tahunan, sekitar separuh oksigen yang kita hirup berasal dari laut—khususnya fitoplankton. Sisanya dihasilkan tumbuhan darat, termasuk hutan,” ujar Widodo via Kompas.com, Kamis (1/1/2026).
Namun, dalam skala geologis jutaan tahun, sebagian besar oksigen atmosfer Bumi memang berasal dari mikroorganisme laut purba. Sementara itu, hutan hujan besar seperti Amazon lebih berperan sebagai penyangga iklim global ketimbang pabrik oksigen murni.
“Amazon memang memproduksi oksigen, tapi mayoritas dipakai sendiri oleh pohon, hewan, dan mikroba di dalamnya. Kontribusi bersih ke atmosfer hampir netral. Tapi peran Amazon sangat vital sebagai penyerap karbon dan penjaga keanekaragaman hayati,” jelas Widodo.
Ancaman Iklim: Laut Kehilangan Stok Oksigen
Widodo juga menyoroti ancaman perubahan iklim terhadap kemampuan laut memproduksi oksigen. Pemanasan global meningkatkan suhu laut, menyebabkan oksigen terlarut menurun dan menimbulkan zona hipoksia (dead zones) di pesisir. “Dalam 50 tahun terakhir, lautan telah kehilangan sekitar 2 persen stok oksigennya. Itu dampaknya sangat besar pada ekosistem ikan dan rantai makanan laut,” ujarnya.
Fitoplankton, “hutan mini” di samudra, sangat vital—bahkan Prochlorococcus, bakteri laut mikroskopis, diperkirakan menyumbang sekitar 20 persen oksigen global. Namun, krisis iklim dan pencemaran bisa menurunkan populasi fitoplankton, mengancam kemampuan laut menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida.
Penjelasan Oseanografi: Interaksi Laut, Atmosfer, dan Dampak Kerusakan
Pakar oseanografi dari IPB, Tri Prartono, menambahkan bahwa pemanasan laut mengurangi kelarutan oksigen dan merusak struktur sel fitoplankton, sehingga menurunkan efektivitas fotosintesis. “Kalau struktur penangkap cahaya rusak, produksi oksigen ikut berkurang,” jelas Tri.
Pencemaran pesisir, limbah, dan penurunan kualitas air juga menekan pertumbuhan fitoplankton. Ketika produksi oksigen di laut menurun, tekanan parsial oksigen di air turun, bahkan bisa membuat laut “mengambil” oksigen dari atmosfer, sehingga terjadi kompetisi antara kebutuhan oksigen laut dan darat.
“Jika oksigen di laut terus menurun, dampaknya bisa membahayakan kehidupan makhluk hidup di muka Bumi secara keseluruhan,” tegas Tri.
Perdebatan soal “paru-paru dunia” seharusnya tidak terjebak pada dikotomi laut versus hutan. Keduanya saling terkait dalam sistem ekologis Bumi. Menjaga laut tanpa melindungi hutan, atau sebaliknya, justru mengancam keseimbangan planet yang rapuh ini.
Sebagaimana disimpulkan para ahli, “Paru-paru Bumi bukan hanya Amazon, tapi juga samudra. Jika laut sakit, Bumi ikut sesak napas.” Kini, tantangannya adalah memastikan perlindungan ekosistem darat dan laut berjalan beriringan demi masa depan yang lebih sehat untuk semua.
Social Footer