Breaking News

Fakta Penting Pesut Mahakam: Mamalia Langka Sungai Kalimantan

Sambangdesa.com / Balikpapan – Di balik gemerlap dunia sepak bola Indonesia, logo Borneo FC Samarinda menyimpan makna mendalam: seekor Pesut Mahakam yang kini semakin langka. Mamalia air tawar ini bukan sekadar simbol klub, melainkan juga ikon Samarinda dan Kalimantan Timur yang merepresentasikan kekayaan alam sekaligus tantangan konservasi di Indonesia.

Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah mamalia air tawar unik yang hanya dapat ditemukan di Sungai Mahakam dan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Meski sekilas mirip lumba-lumba, pesut ini memiliki ciri khas tersendiri: tubuh putih keabuan, kepala bulat dengan dahi tinggi, serta sirip dada besar dan membulat. Berbeda dari saudaranya di habitat air asin, analisis DNA menunjukkan Pesut Mahakam telah beradaptasi khusus dengan perairan tawar Kalimantan.

Habitat alami Pesut Mahakam terbatas di Sungai Mahakam dan Teluk Balikpapan. Selain pesut, wilayah ini juga menjadi rumah bagi lumba-lumba hidung botol, duyung, buaya, dan penyu. Namun, pesut menghadapi ancaman serius akibat menurunnya kualitas lingkungan. Aktivitas industri, limbah domestik, penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan, serta rencana pemindahan ibu kota negara ke wilayah dekat habitat pesut, semakin memperbesar risiko kepunahan.

Pesut Mahakam merupakan satu-satunya lumba-lumba air tawar di Indonesia yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan PP No. 7 Tahun 1999. Spesies ini juga tercatat dalam daftar merah IUCN sebagai hewan yang terancam punah sejak 2008. Data Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI) pada 2022 mencatat hanya tersisa sekitar 62 individu di alam liar.

Menurut penelitian Danielle Kreb dari Yayasan Konservasi RASI, pesut ini merupakan hasil evolusi panjang sejak zaman es, ketika perubahan daratan dan perairan memaksa sejumlah lumba-lumba beradaptasi dengan lingkungan air tawar.

Pesut Mahakam dikenal memiliki perilaku sosial dan berburu yang unik. Mereka sering kali terlihat berenang perlahan, melambaikan sirip atau ekor, melakukan salto, dan mengintip permukaan air. Salah satu strategi berburu yang menarik adalah menyemprotkan air secara horizontal untuk mengelabui mangsa seperti ikan repang, kendia, lais, jelawat, patin, baung, serta udang.

Menariknya, pesut jantan kerap melakukan semprotan air secara vertikal ke udara atau ke sesama pesut sebagai bentuk atraksi menarik perhatian betina, menandakan kecakapan dalam berburu dan berinteraksi sosial.

Penurunan populasi pesut Mahakam sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Dalam periode 1995-2018, rata-rata empat ekor pesut mati setiap tahun, dengan sekitar 66% kematian akibat terjebak alat tangkap tradisional seperti rengge. Selain itu, lalu lintas kapal, tumpahan minyak, dan polusi suara dari industri kayu serta batu bara turut mengancam kelangsungan hidup pesut.

Pemerintah daerah telah mengupayakan perlindungan melalui penetapan kawasan konservasi perairan, seperti yang tertuang dalam SK Bupati Kutai Kartanegara No. 75/2020. Namun, tantangan masih besar karena lalu lintas sungai yang padat dan aktivitas industri yang terus berlangsung di sekitar habitat pesut.

Siklus hidup Pesut Mahakam cukup panjang, dengan usia mencapai 30 hingga 50 tahun. Musim kemarau (Juli-September) menjadi masa kelahiran terbanyak, namun tingkat reproduksi mereka rendah: betina dewasa hanya bisa melahirkan setiap 2-3 tahun sekali, dengan masa kehamilan antara 9 hingga 14 bulan dan masa menyusui sekitar 1,5 tahun. Rata-rata kematian sekitar 4,2 individu per tahun, sedangkan kelahiran hanya berkisar 5-6 individu per tahun, sehingga pertumbuhan populasi berlangsung sangat lambat.

Pesut Mahakam hidup berkelompok antara 8 hingga 30 individu. Betina umumnya bergerak sejauh 45 hingga 100 kilometer per tahun, sementara jantan dapat menjelajah hingga 165 kilometer. Komunikasi antarpesut dilakukan melalui suara, karena visibilitas air Sungai Mahakam sangat rendah. Mereka menghasilkan beragam suara seperti dengkuran, kicauan, rintihan, dan siulan untuk berinteraksi dan menjaga kebersamaan kelompok.

Pesut Mahakam bukan hanya simbol kebanggaan Samarinda dan Kalimantan Timur, tetapi juga cerminan tantangan besar dalam upaya pelestarian satwa endemik Indonesia. Dengan populasi yang terus menyusut dan ancaman yang beragam, perlindungan habitat dan perubahan perilaku manusia menjadi kunci keberlanjutan spesies ini di masa depan.

Bagaimana peran masyarakat dan pemerintah dapat ditingkatkan untuk menyelamatkan Pesut Mahakam? Pengalaman atau pendapat Anda tentang upaya konservasi satwa langka di Indonesia sangat berarti untuk masa depan keanekaragaman hayati nasional.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close