Sambangdesa.com - Ketika topik redenominasi rupiah kembali mencuat, banyak yang bertanya-tanya: apa sebenarnya redenominasi itu dan bagaimana pengaruhnya pada ekonomi? Pada Oktober 2025, Pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 yang membuka jalan bagi penyederhanaan nilai rupiah. Rencana ini menjadi bagian dari persiapan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah yang ditargetkan selesai pada 2027.
Redenominasi adalah proses menyederhanakan nilai nominal mata uang dengan menghilangkan beberapa nol di belakang angka—misalnya, mengubah Rp1.000 menjadi Rp1. PMK 70/2025 menyatakan tujuan utamanya adalah meningkatkan efisiensi perekonomian, daya saing nasional, menjaga stabilitas nilai rupiah, serta meningkatkan kredibilitas mata uang Indonesia.
Namun, redenominasi bukanlah hal baru di dunia. Sejumlah negara pernah melakukan langkah serupa, seringkali sebagai respons terhadap hiperinflasi yang parah. Berikut ini adalah sepuluh contoh redenominasi terbesar dalam sejarah dunia yang memberikan gambaran bagaimana negara mengatasi tantangan ekonomi ekstrem.
1. Zimbabwe: Tiga Kali Redenominasi Hiperinflasi
Zimbabwe mengalami hiperinflasi yang luar biasa parah hingga tiga kali melakukan redenominasi pada 2009. Pada puncaknya, satu dolar Zimbabwe keempat setara dengan 10 septillion dolar pertama. Pemerintah akhirnya melegalkan penggunaan mata uang asing seperti dolar AS dan rand Afrika Selatan untuk mengendalikan ekonomi.
2. Hungaria: Rekor Redenominasi Terbesar Tahun 1946
Setelah Perang Dunia II, Hungaria mengganti pengő yang terdepresiasi dengan forint pada rasio 400 oktillion banding 1, menandai redenominasi terbesar dalam sejarah dunia. Hiperinflasi yang meningkat hingga 400% per hari membuat mata uang lama kehilangan nilainya secara dramatis.
3. Yunani: Redenominasi Setelah Pendudukan Jerman
Pada 1944, Yunani melakukan redenominasi drachma sebanyak 50 miliar kali pasca pendudukan Nazi. Inflasi yang melonjak hingga 3×10^10% menyebabkan penggantian mata uang untuk menstabilkan ekonomi yang hancur akibat perang.
4. Yugoslavia: Hiperinflasi dan Redenominasi Berganda
Yugoslavia menghadapi hiperinflasi terpanjang ketiga di dunia pada awal 1990-an dengan empat kali redenominasi mata uang dalam waktu singkat. Perang Bosnia dan boikot ekonomi memperburuk kondisi, hingga akhirnya dinar baru dipatok ke Deutsche Mark untuk mengendalikan inflasi.
5. Jerman: Dari Papiermark ke Rentenmark
Setelah Perang Dunia I, Jerman mengalami hiperinflasi hebat dengan tingkat inflasi mencapai 29.500% pada 1923. Pemerintah memperkenalkan rentenmark menggantikan papiermark dengan rasio 1 triliun banding 1, yang kemudian disusul oleh reichsmark sebagai mata uang stabil.
6. China: Perjuangan Mengatasi Hiperinflasi 1948-49
Tiongkok mengalami hiperinflasi akibat perang saudara dan konflik dengan Jepang. Pada 1948, yuan emas diperkenalkan dengan nilai tukar 3 juta banding 1 yuan lama. Namun, hiperinflasi berlanjut hingga akhirnya renminbi modern diperkenalkan pada 1949 dengan redenominasi 10.000 banding 1.
7. Nikaragua: Redenominasi Setelah Krisis Ekonomi
Menghadapi inflasi tahunan sebesar 13.109% pada 1987, Nikaragua melakukan redenominasi mata uang cordoba dengan penggantian hingga 5 juta banding 1 pada awal 1990-an, sebagai bagian dari program penghematan dan stabilisasi ekonomi.
8. Republik Zaire (Kongo): Multi-Redenominasi di Tengah Krisis
Zaire (sekarang Kongo) mengalami beberapa kali redenominasi pada awal 1990-an akibat inflasi dan perang saudara, termasuk pengenalan Nouveau Zaire dan pengembalian franc Kongo dengan rasio hingga 100.000 banding 1.
9. Bolivia: Dari Peso ke Boliviano Baru
Pada 1987, Bolivia mengganti peso boliviano dengan boliviano baru pada rasio 1.000.000:1 untuk menanggulangi inflasi yang mencapai puncak di awal 1980-an. Reformasi ini berhasil menurunkan inflasi secara signifikan dalam dekade berikutnya.
10. Peru: Transisi dari Sol ke Sol Nuevo
Peru mengalami hiperinflasi pada 1980-an yang memaksa penggantian sol dengan inti dan kemudian sol nuevo pada awal 1990-an. Sejak itu, inflasi di Peru berhasil dijaga di level rendah sekitar 1,5% per tahun, menjadikan sol sebagai mata uang stabil di Amerika Selatan.
Redenominasi bukan sekadar penghapusan nol dalam nominal uang, melainkan bagian dari strategi ekonomi yang kompleks untuk mengatasi inflasi, menstabilkan mata uang, dan memulihkan kepercayaan publik. Sejarah global menunjukkan bahwa keberhasilan redenominasi bergantung pada reformasi ekonomi menyeluruh dan stabilitas politik.
Bagi Indonesia, rencana redenominasi rupiah yang sedang disiapkan dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan efisiensi ekonomi dan daya saing nasional, asalkan didukung oleh kebijakan makroekonomi yang kuat.

Social Footer