Breaking News

Tak Lagi Menduga-duga, Petani Krandegan Andalkan Data Cuaca

Sambangdesa.com / Purworejo - Inovasi teknologi kini hadir di tengah sawah Desa Krandegan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Para petani tidak lagi bergantung pada ramalan dan kebiasaan lama, melainkan mengandalkan data cuaca real time untuk menjaga hasil panen dan menghadapi tantangan perubahan iklim.

Transformasi Pertanian: Dari Tradisi ke Teknologi
Di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, sebuah perubahan besar sedang berlangsung. Selama bertahun-tahun, para petani di desa ini menanam dan merawat tanaman berdasarkan pengalaman turun-temurun. Namun, cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim membuat metode tersebut kian sulit diandalkan.

Musim hujan yang datang terlambat, kemarau yang memanjang, serta suhu udara yang tidak stabil telah meningkatkan risiko gagal panen. Sering kali, serangan hama baru diketahui setelah tanaman mengalami kerusakan, sehingga upaya penyelamatan menjadi terlambat. "Biasanya kami tahu ada serangan hama setelah tanaman rusak. Sudah terlambat," ungkap Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, Minggu (18/1/2026).

Stasiun Cuaca Otomatis: Membaca Alam Lewat Data
Untuk menjawab tantangan tersebut, Desa Krandegan memanfaatkan teknologi Automatic Weather Station (AWS) atau stasiun cuaca otomatis. Perangkat ini dipasang di area persawahan dan bekerja selama 24 jam tanpa henti, merekam data suhu, kelembapan, curah hujan, arah serta kecepatan angin, dan tekanan udara.

Informasi yang dikumpulkan AWS diolah dan dicocokkan dengan kalender Hama dan Penyakit Tanaman (HPT). Dengan cara ini, potensi munculnya organisme pengganggu seperti wereng cokelat dan penyakit blas bisa diprediksi sejak dini. "Dari data cuaca itu, kami bisa tahu potensi hama apa yang mungkin muncul. Jadi petani tidak lagi menunggu diserang," jelas Dwinanto.

Data di Genggaman: Petani Terkoneksi Setiap Saat
Salah satu keunggulan Desa Krandegan adalah keterbukaan informasi. Seluruh data cuaca dan prediksi serangan hama dapat diakses secara daring melalui aplikasi dan situs resmi desa, www.krandegan.id. Petani cukup membuka ponsel sebelum ke sawah untuk memantau kondisi cuaca dan kalender HPT.

Dengan akses informasi ini, petani dapat menyesuaikan waktu tanam, memilih varietas tanaman yang tepat, menentukan jadwal pemupukan, hingga merencanakan pengendalian hama secara lebih efektif. "Petani bisa buka lewat HP. Jadi sebelum ke sawah, mereka sudah punya gambaran kondisi," tambah Dwinanto.

Cara Bertani Berubah: Kombinasi Intuisi dan Sains

Penerapan data cuaca telah mengubah pola pikir petani Krandegan. Bertani kini bukan hanya soal intuisi, tetapi juga mengandalkan dasar ilmiah. "Dulu kami hanya mengira-ngira. Sekarang ada dasarnya," kata Dwinanto.

Pendekatan baru ini berdampak langsung pada penurunan risiko gagal panen dan meningkatkan kesiapsiagaan petani menghadapi cuaca ekstrem. Adaptasi ini menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan desa.

Adaptasi Iklim dan Penguatan Ketahanan Pangan
Pemanfaatan AWS di Krandegan mencerminkan bentuk adaptasi nyata terhadap perubahan iklim. Ketika pola cuaca sulit ditebak, data menjadi alat utama untuk bertahan. "Keberadaan AWS juga menjadi bentuk adaptasi desa terhadap perubahan iklim yang kian nyata. Ketika pola cuaca sulit ditebak, data menjadi alat bertahan," ujar Dwinanto.

Hasil panen yang lebih terjaga berkontribusi pada stabilitas pendapatan petani dan memperkuat ketahanan pangan desa. "Kalau desa kuat, negara kuat," tambahnya.

Inovasi Sederhana, Dampak Nyata

Langkah Desa Krandegan menunjukkan bahwa teknologi pertanian tidak selalu harus rumit atau mahal. Dengan memanfaatkan AWS dan sistem informasi berbasis daring, para petani kini memiliki alat untuk membaca alam lebih awal—bukan sekadar menunggu alam menguji mereka.

Transformasi ini menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin meningkatkan ketahanan pangan dan menghadapi tantangan perubahan iklim secara adaptif dan modern.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close